Renungan: Tuhanlah Kekuatan Kita





Shalom!

Untuk mengawali renungan pada malam hari ini, mari kita baca dari Mzm 28: 7-9: TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya. TUHAN adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi orang yang diurapi-Nya! Selamatkanlah kiranya umat-Mu dan berkatilah milik-Mu sendiri, gembalakanlah mereka dan dukunglah mereka untuk selama-lamanya.

Saya mengambil bacaan di atas sesuai tema pada malam hari ini, yaitu Tuhanlah kekuatan kita. Apa artinya menjadikan Tuhan sebagai sumber kekuatan kita di semester yang baru ini? Artinya, bersama pemazmur, kita mau mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, karena Dia-lah yang akan menolong, mendukung dan memberkati kita. Artinya setiap aktivitas yang kita lakukan: berdoa, bekerja, belajar, bermain, makan, beristirahat, berolahraga, pelayanan, mau kita percayakan kepada Tuhan.

Kini saya akan mempresentasikan sebuah slide show berjudul ”Dimana Tuhan Menginginkan Saya Berada”, yang menceritakan tentang beberapa pengalaman orang yang selamat dari Tragedi Twin Towers, karena hal-hal kecil: membeli donat, mengantar anak yang baru masuk TK dan memakai sepatu baru sehingga membuat kaki lecet dan harus membeli plester sehingga terlambat sampai di kantor. Dari cerita-cerita ini kita tahu bagaimana hal-hal kecil yang mengganggu bisa merupakan cara Allah untuk menyelamatkan hidup kita.

Ada yang mengatakan Tuhan memberikan 24 jam sehari untuk semua orang. Ada 4 hal yang tak akan kembali. Sebutir batu, .....setelah ia dilontarkan. Kata, ...setelah ia diucapkan atau ditorehkan. Kesempatan, ...setelah ia hilang. Waktu, ...setelah ia berlalu,” maka kita semua dipanggil untuk menggunakan waktu yang kita miliki dengan efisien dan efektif. Salah satu kebiasaan dari orang-orang yang sangat efektif menurut Stephen Covey adalah mendahulukan yang utama, jadi kalau kita mau menempatkan Tuhan sebagai sumber kekuatan kita, maka ini artinya kita mau menempatkan Tuhan sebagai yang utama dalam hidup kita. Dalam Mrk 14: 37-38, Yesus berkata kepada Petrus ''Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam? Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.'' Stephen Covey memberi contoh kebiasaan mendahulukan yang utama dengan menempatkan terlebih dahulu batu besar dalam tabung, sehingga semakin banyak kerikil dan pasir yang bisa dimasukkan juga. Dari cerita ini, kita bisa mengatakan bahwa ketika kita menempatkan hubungan kita dengan Tuhan sebagai yang utama, maka kita akan bisa melakukan lebih banyak hal. Ketika ditawari untuk mengikuti Sekolah Evangelisasi Pribadi di Surabaya, saya mengatakan tidak punya waktu karena sepulang kerja saya sudah merasa capek. Tetapi ketika saya mulai berdoa doa Yesus di pagi hari sebelum melakukan kegiatan lain, karena kalau sudah melakukan kegiatan lain akan terlupakan, saya bisa mengikuti Sekolah Evangelisasi Pribadi ditambah beberapa kelas lain sepulang kerja dan sabtu-minggu.

Hari Minggu 13 Maret adalah Hari Minggu Pra Paskah Pertama. Kita akan mendengar tentang Pencobaan di padang gurun dari Mat 4: 3-10 (Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: ''Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.''

Tetapi Yesus menjawab: ''Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.''

Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: ''Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.''

Yesus berkata kepadanya: ''Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!''

Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya,

dan berkata kepada-Nya: ''Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.''

Maka berkatalah Yesus kepadanya: ''Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!''

Lewat bacaan Injil di atas, kita diajak untuk menyadari bahwa pencobaan-pencobaan itu masih berlangsung sampai sekarang tetapi juga untuk menjadikan Tuhan Allah sebagai sumber kekuatan kita dalam mengalahkan pencobaan-pencobaan itu. Fr. Michael Sloboda, MM mengatakan: “di masa sekarang ini, pencobaan-pencobaan ini tetap hadir dalam tiga kategori: kenikmatan, kekuasaan dan nama besar. Dosa menyebar seperti virus. Kita tahu bagaimana virus komputer menyebar dengan cepat, menyerang harddisk dan merusak komputer. Ketika kita mengaku dosa, itu seperti menghapus spam dan virus dari harddisk kita, ah, maksud saya dari jiwa kita. Jadi, pertimbangkanlah dengan serius untuk menerima Sakramen Pengampunan Dosa pada masa Pra Paskah ini. Kabar Baiknya adalah bahwa Yesus, dengan mengorbankan diriNya, telah mengalahkan kuasa dosa dan maut, Dia, Sang Penyembuh Ilahi, telah menyembuhkan kita dari dosa dan pada akhirnya akan membangkitkan kita pada akhir jaman. Tetapi kita tetap harus mencuci tangan kita sebelum makan, tetap harus menjauhi kesempatan berbuat dosa, dan menghindari apa saja yang akan mengkontaminasi kita dengan dosa.”

Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Galatia 5: 19-21 mengatakan: Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Orang berusaha untuk melakukan apa saja mengejar kenikmatan, kekuasaan dan nama besar dengan segala cara sampai akhirnya meninggalkan Tuhan yang sudah memanggil kita terlebih dahulu sebagaimana dalam Katekismus Gereja Katolik #2567 dikatakan: ”Sebelum manusia memanggil Tuhan, Tuhan memanggil manusia. Juga apabila manusia melupakan Penciptanya atau menyembunyikan diri dari hadapan-Nya, juga apabila ia mengikuti berhalanya atau mempersalahkan Allah, bahwa Ia telah melupakannya, namun Allah yang hidup dan benar tanpa jemu-jemunya memanggil setiap manusia untuk suatu pertemuan penuh rahasia dengan-Nya di dalam doa....

Lalu, bagaimana menjadikan Tuhan sebagai sebagai sumber kekuatan kita? Meskipun sudah disebut beberapa kali, saya akan mengulang kembali dengan mengutip dari Lukas 21: 36: Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia. Dalam Katekismus Gereja Katolik #2559 dikatakan: "Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik"

Jadi, Tuhan menjadi kekuatan kita lewat doa-doa kita, baik doa pribadi maupun doa bersama, baik dalam peristiwa-peristiwa besar maupun peristiwa kecil.

Dari beberapa kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas, saya akan memberi contoh dari dua-tiga hal yang menyita waktu lebih dari setengah dari hari kita. Sebagai pegawai, yang pada umumnya bekerja selama 8 jam sehari, bawalah dalam doa semua yang bersangkut paut dengan pekerjaan: ketika menghadapi godaan untuk mengambil keuntungan pribadi, ketika bermasalah dengan rekan sekerja maupun atasa, ketika menghadapi pekerjaan yang menumpuk, ketika mendapatkan promosi ataupun ketika mendapatkan tawaran pekerjaan baru. Suatu kali, ketika menghadapi staf yang tidak bisa bekerjasama dengan koordinatornya sehingga mengganggu kelancaran kerja di kantor, saya merencanakan untuk memindahkannya ke bagian yang lain sembari mendoakan supaya dia mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan tidak lama kemudian dia mengundurkan diri karena mendapat tawaran yang lebih baik. Biasanya waktu tidur yang dianjurkan untuk orang dewasa adalah 8 jam sehari meskipun ”setiap orang mempunyai kebutuhan tidur yang berbeda-beda, dan anda akan mengetahuinya kalau tidur anda sudah cukup, ketika anda tidak merasa terkantuk-kantuk dalam situasi yang membosankan di sore hari, demikian kata seorang psikolog dari Universitas New York, Joyce Walsleben, PhD.” http://puskesmassimpangempat.wordpress.com/2009/10/16/kumpulan-artikel-tentang-tidur-ubtuk-bayi-dan-orang-dewasa/, maka kalau kita mulai menambah jam main game sehingga mulai kurang tidur dan mengantuk di kelas, bawalah juga dalam doa. Menurut Romo I. Sumarya, SJ, jika selama di sekolah mengikuti proses pembelajaran secara efisien, efektif dan afektif dan ditambah dua jam di luar sekolah, maka pasti akan sukses dalam tugas belajar dan yang tidak kalah penting adalah memboroskan waktu secara efisien, efektif dan afektif. http://www.ekaristi.org/artikel/sumarya.php?misc=search&subaction=showfull&id=1285982849&archive=&cnshow=news&ucat=15&start_from=&go=search.

Saya memberi contoh-contoh di atas karena sebagaimana dikatakan Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia 5: 17: ”Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging -- karena keduanya bertentangan -- sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.” Saya sendiri sering berdoa singkat seperti ”Tuhan, berilah saya sinar matahari” ketika akan mencuci pakaian dan cuaca mendung. Puji Tuhan, matahari bersinar dan pakaian kering. Atau ”Tuhan, semoga acaranya belum mulai ketika saya tiba” ketika berangkat terlambat ke pertunjukan tentang SantoAgustinus. Puji Tuhan acara dibuka dengan pengantar sehingga pertunjukkan belum mulai. Atau ”Tuhan, Engkau tahu saya tidak tahan dingin” ketika harus berangkat ke sekolah setelah turun salju pertama semalam. Puji Tuhan, saya merasa hangat sehingga saya harus membuka retsluiting jaket musim dingin saya. Hubungan kita dengan Tuhan harus dibangun secara konsisten dari hidup sehari-hari dengan doa pribadi di saat hidup kita tenang atau dilanda badai, sehingga Tuhan sungguh menjadi kekuatan kita. Ada yang mengatakan bahwa yang penting kualitas bukan kuantitas, tetapi kalau kita pikirkan kembali, ketika kita membutuhkan bantuan, kita akan mencari teman yang sering kita hubungi daripada teman yang jarang kita hubungi. Bila kita menyandarkan kekuatan kepada Tuhan dalam hidup sehari-hari, maka kita akan cenderung untuk mencari penyelesaian dari Tuhan dan bukan dari minuman keras, rokok, narkoba, dll.

Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai kekuatan kita, kita akan melihat buahnya sebagaimana lagu yang pertama kali kita nyanyikan tadi, yang diambil dari Yohanes 15: 5-8: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.

Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.''

Tentu saja terkadang Tuhan tidak memberikan sama persis seperti yang kita inginkan, tetapi seringkali justru lebih baik, meskipun mungkin saat itu kita tidak bisa melihatnya sebagai lebih baik, karena ada hikmah yang ingin Tuhan sampaikan.

Saya akan menutup renungan ini dengan sebuah presentasi tentang hal-hal yang bisa dilakukan untuk selama masa Pra-Paskah. Yaitu: berpuasa dari marah dan benci, berpuasa dari menghakimi orang lain, berpuasa dari rasa putus asa, berpuasa dari mengeluh, berpuasa dari kepahitan dan dendam, berpuasa dari menghabiskan uang dengan menyumbangkan 10% dari pengeluaran kepada orang miskin serta menambah waktu untuk berdoa. Semoga masa Pra Paskah kali ini, menjadi sarana yang memampukan kita untuk semakin menjadikan Tuhan sebagai kekuatan kita sehingga hidup kita akan semakin diberkatiNya. Amin.

Guangzhou, 11 Maret 2011

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. Renungan ini dibawakan untuk PDKK Hati Kudus Yesus Guangzhou pada 11 Maret 2011


Renungan: Menang Terhadap Godaan

(Kej 2:7-9.3:1-7; Rm 5:12-19; Mat 4:1-11)
Shalom!
Saya akan menerjemahkan penjelasan dari Christian Community Bible seputar bacaan pertama. Bagi kita, Laki-laki dan Perempuan di Taman Eden, adalah seperti sebuah mimpi tentang kehilangan kebahagiaan, tetapi ini bukan yang dimaksudkan pengarangnya. Pada masa itu, orang tidak bertanya: Kemana kita pergi? Mereka berpikir hanya dalam kerangka masa lalu: pada awalnya, Allah atau allah-allah telah membentuk semuanya sebagaimana seharusnya dan kemudian semuanya berjalan dengan baik. Karenanya cerita tentang pasangan pertama adalah seperti cermin dimana orang menemukan kembali keberadaan umat manusia, pilihan-pilihan mereka dan masa depan mereka. Konsekuensinya, kita seharusnya tidak berpikir bahwa manusia pertama seperti Tarzan, Adam, yang dosanya membawa semua pencobaan kepada kemanusiaan. Beberapa Bapa Gereja seperti St. Irenaneus, mempunyai perspektif yang lebih baik ketika mereka mempertimbangkan bahwa sejarah manusia diarahkan oleh pengajaran akan Allah, yang ambisi utamanya adalah untuk mempercepat pertumbuhan “Adam,” atau umat manusia dan untuk membawanya pada kedewasaan. Haruskah kita berbicara tentang dosa Adam atau dosa Laki-laki? Dalam bahasa Ibrani, Adam berarti semua manusia. Ketika kata ini digunakan sebagai nama tanpa artikel, kita mengatakan Adam. Di sini, bagaimanapun Alkitab mengatakan “the” Adam, yaitu Laki-laki, yang adalah manusia. Dalam hal ini, marilah kita mengingat kembali kata-kata Origen, ahli Kitab Suci terkemuka yang hidup pada abad ke 3, yang mengatakan: Mengenai Adam dan dosanya, hanya mereka yang mengetahui bahwa dalam bahasa Ibrani Adam berarti laki-laki, akan sungguh-sungguh mengerti arti sesungguhnya dari cerita ini. Umat manusia dalam harmoni dengan alam semesta, di Taman Eden, Adam adalah seperti sebuah oasis di tengah padang gurun. Dan dengan pasangan yang bersatu, semua yang alami ada dalam keteraturan. Apa arti pohon pengetahuan akan yang baik dan yang jahat? Baik dan jahat berarti: apa yang baik dan berguna dan apa yang tidak. Jadi pohon ini adalah pohon kebijaksanaan, dari seni hidup dan menjadi bahagia. Allah membuka jalan kebijaksanaan di depan umat manusia, tetapi umat manusia mempunyai kebebasan. Apakah mereka akan menolak menjalani jalan itu, tidak menjadi yang tahu dan memutuskan dengan otoritas, apa yang baik untuk mereka. Dalam literatur Timur Tengah, seekor ular adalah makhluk jahat tetapi juga membawa kekuatan ilahi. Pada saat itu, kata kerja “makan” digunakan untuk mengindikasikan belajar dengan hati. Ular mengulang pada manusia, apa yang benar: tidak ada yang terlalu besar untuk mereka, pada saat yang sama ular juga mengarahkan mereka untuk meragukan Allah. Mungkin pengarang menyaksikan eksploitasi wanita dan seni dari orang yang tereksploitasi untuk mengatur tuannya. Melihat bahwa penderitaan tidak dibagi secara merata, dia menyimpulkan bahwa wanita adalah, yang pertama tidak taat. Allah tidak akan menerima alasan laki-laki. Selanjutnya dikatakan bahwa mereka menyembunyikan diri dari Allah. Takut akan Allah muncul sebagai konsekuensi dosa.
Bacaan Injil berbicara tentang pencobaan yang dialami oleh Tuhan Yesus:
a. Pencobaan untuk mengubah batu menjadi roti: berbicara tentang godaan untuk mencari kenikmatan. Pada masa sekarang, bentuknya antara lain: percabulan, judi, kemabukan, pesta pora, internet, ”game”, termasuk juga mundur dari sel / persekutuan / pelayanan/ komunitas ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Apakah kita sungguh mengusahakan untuk menghadiri pertemuan sel.
b. Pencobaan untuk menjatuhkan diri dari bubungan bait Allah: berbicara tentang godaan untuk mencari nama besar. Pada masa sekarang, bentuknya antara lain: menfitnah, egoisme, dan kesombongan.
c. Pencobaan untuk memiliki seluruh dunia dengan ’hanya’ menyembah iblis: berbicara tentang godaan untuk mencari kekuasaan. Pada masa sekarang, bentuknya antara lain: penyembahan berhala.

Perbedaan dan persamaan antara Adam dan Kristus:
ADAM KRISTUS
1. ketidaktaatan Adam membawa masuk dosa ke dalam dunia yang mengantar orang pada kematian. 1. ketaatan Kristus membawa perdamaian hubungan antara manusia dengan Allah yang mengantar orang pada kehidupan baru.
2. merupakan lambang dari manusia jasmani yang hidup dalam kedagingan. 2. menjadi lambang dari manusia roh yang hidup seturut kehendak Allah.
3. manusia hidup di bawah penghukuman / kutuk. 3. manusia dibenarkan dan hidup dalam kasih karunia Allah.
4. manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup. 4. Adam yang terakhir menjadi Roh yang menghidupkan.
5. sama-sama mengalami pencobaan 5. sama-sama mengalami pencobaan

Godaan selalu hadir dalam hidup kita sehingga kita tidak taat kepada Allah. Bagaimana cara untuk meraih kemenangan terhadap godaan ?
a. Menyadari bahwa kebahagiaan hidup kita bergantung sepenuhnya pada Allah. Jadi, melaksanakan kehendak Tuhan adalah syarat mutlak untuk bisa masuk ke tanah terjanji dan hidup dalam kemenangan. Mau untuk hidup taat, dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana sebagai tanda kerendahan hati untuk mau dipimpin oleh Roh.
b. Belajar dari pengalaman Adam dan Hawa :
i. Tidak bernegosiasi dengan iblis dalam menghadapi suatu tawaran tertentu. Memperkuat diri dengan firman Tuhan sebagai santapan kehidupan kita. Firman Tuhan sanggup membedakan segala pertimbangan dan pikiran hati kita.
ii. Segera ’lari’ dari situasi godaan tersebut sebagaimana dilakukan oleh Yusuf ketika digoda oleh istri Potifar (Kej 39: 11- 13).
c. Berjaga-jaga senantiasa dalam doa & pantang - puasa untuk mematikan kedagingan dan menghidupkan kerohanian.
d. Hidup dalam kasih karunia Allah dan pertobatan terus menerus. Kemampuan untuk melaksanakan kehendak Allah dan hidup benar hanya dapat terjadi karena kasih karunia dan hidup rohani yang terus menerus diberikan kepada kita melalui Yesus Kristus (Ef 2:5). Tuhanlah yang memberikan kehidupan kepada manusia.
Kesimpulan :
a. Sejak awal penciptaan, manusia cenderung untuk hidup memberontak kepada Allah. Pilihan untuk hidup taat dan memberontak sepenuhnya tergantung pada manusia sebagai konsekuensi dari kehendak bebas yang dimiliki. Dengan keputusan pilihan yang berbeda, akibatnya juga berbeda. Ketaatan membawa Berkat dan Kehidupan. Ketidaktaatan membawa Kutuk dan Maut. Sama seperti ketidaktaatan satu orang membawa kematian bagi semua manusia, ketaatan satu orang juga dapat membawa keselamatan bagi banyak orang.
b. Masa Prapaskah = masa pertobatan, masa untuk kita kembali kepada tujuan kita diciptakan yaitu untuk menjadi anak-anak Allah yang sejati.

Guangzhou, 10 Maret 2011

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. Materi renungan ini dari HSM Surabaya, ditulis ulang untuk Komsel Zhongda pada 10 Maret 2011

Information: Prayer Line


Greetings from Guangzhou!
If you need somebody to pray for/with you at this time, please add at your Yahoo Messenger ID schoolofloveandprayer@yahoo.com with the note “School of Love and Prayer” so your name will not be ignored. Somebody will pray for/with you with below schedule:
Wednesdays 09.00 am - 05.00 pm (GMT +8) Indonesian and English
Please leave a message if it’s not online so we can make an appointment.You are welcome to email your experience during or after the prayer.

Kalau Anda membutuhkan seseorang untuk berdoa bagi/bersama Anda pada saat ini, Anda bisa menambahkan pada Yahoo Messenger ID schoolofloveandprayer@yahoo.com dengan catatan “School of Love and Prayer” sehingga nama Anda tidak akan diabaikan. Seseorang akan berdoa bagi/bersama Anda, dengan jadwal sebagai berikut:
Rabu 09.00 am - 05.00 pm (GMT +8) Bahasa Indonesia dan Inggris
Mohon meninggalkan pesan kalau kami tidak online sehingga kita bisa mengatur janji online.Anda boleh mengirimkan pengalaman Anda selama dan sesudah doa ke alamat email tersebut di atas.

“…For where two or three gather in my name, there am I with them.” (Mat 18:20)Guangzhou, March 2, 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Sharing: School of Love and Prayer


When I visited Home of Love of Missionaries of Charity, Nam Cheong Community on 29 May 2010, I was inspired to have a project “House of Love and Prayer” in the future. I didn’t have any concrete idea how it will be. Later on, I was thinking about a place for prayer and hospitality ministry.
As one of the readers of my blog was asking the telephone number of Trappistine Rawaseneng-Indonesia, I also checked the website of Trappistine Gedono-Indonesia http://www.gedono.trappist-rawaseneng.org. They named their monastery as “Sekolah Cinta Kasih” (=School of God’s Love). It’s inspired me to the idea of “School of Love and Prayer.”
After learning from School of Healing Prayer Level 1 off campus http://www.christianhealingmin.org/categories.asp?cat=51, I usually offer to pray together with the people who ask me to pray for them. It means I will offer he/she to say his/her own prayer in the middle of our prayer. By praying together, I learned to be humble as the prayer is answered because of our prayer instead of my prayer. Besides, the person knows better about his/her deep desire. Francis MacNutt said: "who will get healed and when (and why some people get healed and others do not) is a mystery. Our job is just stay obedient, do what we can, and leave the rest up to God."
After praying together three times over the phone in less than 24 hours on Feb 14-15, 2010, I got the idea to launch a prayer line through internet. It’s the first ministry of the School of Love and Prayer.
The prayer line will be available in both English and Indonesian at Yahoo Messenger ID schoolofloveandprayer@yahoo.com on Wednesdays 9.00 am - 5.00 pm (Hong Kong time, GMT+8). For more details information can be read at http://anastasialindawatimm.blogspot.com/2011/03/information-prayer-line-of-school-of.html.
Hopefully this simple project will be 24/7 prayer line. Of course, it will need many prayer line ministers around the world, religious and lay persons, who are willing to pray with our brothers and sisters. It will need at least (24 x 7) - 3 = 165 persons if one person is willing to spend one hour per week. A simple handout will be sent to all ministers including the prayer and how to access the prayer line. Learning from School of Healing Prayer either on or off campus would be very helpful.
School of Love and Prayer is not an institutional school but hopefully it will become the place to learn how to love our neighbours and pray with humility. As Francis MacNutt said, “Christians often concentrate on the future and going to heaven. This can divert us from concentrating on the present and bringing the kingdom of God to earth. We are not just trying to escape a wicked world, but God has sent us his power in the Spirit to transform the evil in the world. This attitude is modeled in the Lord’s prayer: The kingdom come, thy will be done, on earth as it is in heaven.”


Give me a man of prayer and he will be capable of anything. He may say with the apostle, “I can do all things in him who strengthens me.” (St. Vincent de Paul)

Guangzhou, March 2, 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible