Renungan: Hari Raya Kenaikan Tuhan 2011

(Bacaan I: Kis 1: 1-11; Bacaan II: Ef 1: 17-23; Injil: Mat 28: 16-20)

Shalom!
Pada Perjamuan Malam Terakhir, Yesus mengatakan bahwa Ia 'akan pergi'. Gereja mengartikannya sebagai petunjuk mengenai Kenaikan-Nya ke Surga. Ke manakah tepatnya Yesus pergi dan mengapa? Orang-orang Timur Tengah biasa melihat segala sesuatu secara harafiah. Mereka percaya bahwa surga ada di suatu tempat di atas langit - mereka pikir surga itu seperti suatu kubah di atas langit. Yesus tidak datang untuk mengajarkan astronomi atau ilmu perbintangan, jadi Ia terangkat ke langit sebagai cara untuk mengatakan bahwa Ia pergi ke Surga. Mengapa Ia pergi? Ia mungkin hendak mengajarkan kepada para murid-Nya agar tidak lagi terpaku pada kehadiran-Nya secara fisik. Ia akan tetap bersama mereka secara rohani melalui Roh Kudus-Nya. Dengan cara demikian Ia mendorong para murid-Nya untuk memulai misi mereka yaitu “pergi ke seluruh dunia untuk mewartakan Injil.” P. Richard Lonsdale (http://yesaya.indocell.net/id649.htm)
Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus, dirayakan pada hari Kamis empat puluh hari setelah Paskah tetapi di beberapa tempat dirayakan pada hari Minggu Paskah ke VII. Angka empat puluh diinspirasi oleh selang waktu bayi berada dalam rahim ibunya, yaitu empat puluh minggu, yang mengindikasikan waktu pertumbuhan dan kematangan, waktu menunggu hidup yang baru. Selama empat puluh hari Yesus menyiapkan diriNya untuk misiNya sebagai Penyelamat dan selama empat puluh hari para rasul menyiapkan diri untuk pencurahan Roh Kudus. Setiap penulis Injil, dengan caranya sendiri, mengakhiri tulisannya dengan perutusan para rasul. Dalam Injil Matius Minggu ini, kita mendengar bagaimana Yesus memberi perintah untuk pergi dan menjadikan semua bangsa muridNya dan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus serta mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkanNya kepada kita. Ini adalah perintah Yesus yang terakhir dan biasa disebut Amanat Agung karena besarnya kuasa (di surga dan di bumi) dan besarnya jangkauan (kepada semua bangsa) perintah ini. Mirip dengan itu, dari halaman pertama Kisah Para Rasul, Yesus mengingatkan GerejaNya akan tuntutan misi, ketika Gereja, atau bahkan komunitas terkecil, tidak lagi menjadi missioner, mereka bukan lagi Gereja Kristus. Dietrich Bonhoeffer mengatakan kekristenan tanpa pemuridan adalah kekristenan tanpa Kristus, percaya kepada Yesus saja tidak cukup, kita dipanggil untuk mematuhi perintahNya, hidup menurut apa yang dikatakan Yesus, dan menunjukkan kesetiaan kita kepada Kerajaan Allah, yang telah rusak, ke dalam dunia Kristus.
Yesus memperbanyak “bukti-bukti” kebangkitanNya bagi mereka yang terpanggil untuk menjadi saksi Kristus yang bangkit, tetapi sekarang Dia harus membiarkan para rasul mengetahui perbedaan dari kebangkitan. Pada penampakanNya yang terakhir pada hari kenaikanNya ke Surga, Yesus mengungkapkan kepada mereka arti dari ceritanya sendiri: datang dari Bapa, dia kembali ke Bapa, tetapi Dia tidak kembali sendirian, Dia membawa juga “orang-orang tawanan” (Ef 4: 8) yang Dia lepaskan dari kuasa kegelapan dan membawa mereka ke dalam Kerajaan AnakNya yang kekasih (Kol 1: 13), Dia pergi untuk menyiapkan sebuah tempat bagi kita, sehingga dimana Dia berada, kitapun berada (Yoh 14: 2-3). Saat ini, para rasul masih berada di dunia ini, dimana mereka harus memberikan kesaksian akan kenyataan baru dari Kerajaan Allah yang didirikan oleh Yesus, sebuah Kerajaan yang tidak seperti kerajaan di dunia ini yang didirikan dengan kekuasaan dan uang (Luk 22:25-26), tetapi Kerajaan cinta, keadilan dan kedamaian. Kerajaan ini tidak akan didirikan di awan, tetapi sudah ada di antara kita (Luk 17: 20-21) dan bertumbuh setiap kali kita membiarkan diri kita dibimbing oleh Roh Kudus.
Pelayan Sakramen Baptis adalah Uskup, imam dan diakon kecuali dalam keadaan darurat boleh dilakukan oleh siapapun. Sebagai orang yang sudah dibaptis dan bukan pelayan sakramen Baptis, maka panggilan kita adalah melakukan penginjilan dalam hidup kita sehari-hari, menjadi umat Katolik yang berusaha menghidupi janji Baptis yang sudah kita ucapkan dengan menolak setan, dosa dan segala kejahatan yang merongrong masyarakat. Mahatma Gandhi mengatakan bahwa beliau menyukai Kristus kita, tetapi beliau tidak menyukai orang-orang Kristen.
Tahap-tahap proses Evangelisasi adalah: Kesaksian hidup pribadi dan komunitas, Pewartaan Kabar Gembira, Perubahan hati, Penggabungan dengan komunitas kristiani serta Memampukan untuk menjadi Evangelis. Seorang bukanlah Katolik yang sesungguhnya bila tidak perpartisipasi dalam evangelisasi.
Karena hari Minggu ini adalah Hari Komunikasi Sosial se-Dunia, maka saya akan menutup renungan ini dengan pesan Bapa Paus Benedictus XVI: ”Oleh karena itu, saya ingin mengajak orang-orang kristiani dengan percaya diri, dan dengan kreatifitas yang terbina dan bertanggungjawab bergabung dalam jejaring hubungan yang dimungkinkan oleh jaman digital. Hal ini bukan saja untuk memuaskan keinginan untuk hadir, tetapi karena jejaring ini merupakan bagian utuh dari hidup manusia. Internet memberikan sumbangsih bagi perkembangan cakrawala intelektual dan spiritual yang lebih kompleks, bentuk-bentuk baru kesadaran berbagi. Di dalam wilayah ini juga kita dipanggil untuk memaklumkan iman kita bahwa Kristus adalah Allah, Penyelamat umat manusia dan Penyelamat sejarah, yang di dalam-Nya segala sesuatu memperoleh kepenuhannya (Bdk. Ef. 1:10). Pewartaan Injil menuntut sebuah komunikasi yang sekaligus penuh hormat dan peka, yang menggugah hati dan menggerakkan kesadaran; cerminan suri teladan Yesus yang bangkit tatkala Ia bergabung bersama para murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus (bdk. Lk. 24:13-35). Dengan cara pendekatan-Nya, dialog-Nya bersama mereka, cara-Nya yang lembut menggerakkan hati, mereka perlahan-lahan dituntun kepada suatu pemahaman akan misteri.”

Guangzhou, 2 Juni 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. Renungan ini dibawakan untuk Komsel Zhongda pada 2 Juni 2011, sebagian adalah terjemahan bebas dari komentar Christian Community Bible-Catholic Pastoral Edition

Renungan: Maria Menerima Kabar Gembira

Shalom!
Saya akan memulai renungan ini dengan latar belakang bulan Mei dan Oktober sebagai bulan Maria. Bulan Mei sering dikaitkan dengan permulaan kehidupan, karena merupakan musim semi di negara- negara empat musim. Maka bulan ini dihubungkan dengan Bunda Maria, yang menjadi Hawa yang Baru. Hawa sendiri artinya adalah ibu dari semua yang hidup, “mother of all the living” (Kej 3:20). Devosi bulan Mei sebagai bulan Maria diperkenalkan sejak akhir abad ke 13, tetapi baru menjadi populer di Roma pada sekitar tahun 1700-an. Pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh para serdadu Napoleon. Di dalam penjara, Paus memohon dukungan doa Bunda Maria dan berjanji bahwa jika ia dibebaskan, maka ia akan mendedikasikan perayaan untuk menghormati Bunda Maria. Lima tahun kemudian, pada tanggal 24 Mei, Bapa Paus dibebaskan, dan ia dapat kembali ke Roma. Tahun berikutnya ia mengumumkan hari perayaan Bunda Maria, Penolong umat Kristen. Sedangkan penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan pertempuran di Lepanto pada tahun 1571, di mana negara- negara Eropa diserang oleh kerajaan Ottoman yang menyerang agama Kristen sehingga terancam punah di Eropa. Jumlah pasukan Turki telah melampaui pasukan Kristen di Spanyol, Genoa dan Venesia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) dari Austria, komandan armada Katolik, dan juga umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario memohon pertolongan Bunda Maria. Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang pada tanggal 7 Oktober. Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario setiap tanggal 7 Oktober, sedangkan Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci. (http://katolisitas.org/2010/10/12/mei-dan-oktober-sebagai-bulan-maria/)
Tema pada malam hari ini adalah Maria Menerima Kabar Gembira, untuk itu mari kita baca dari Luk 1: 26-38:
Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,
kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: ''Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.''
Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.
Kata malaikat itu kepadanya: ''Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.''
Kata Maria kepada malaikat itu: ''Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?
Jawab malaikat itu kepadanya: ''Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.''
Kata Maria: ''Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.'' Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Kedatangan malaikat Allah dalam kaca mata iman adalah peristiwa yang sangat agung, sakral, dan demi tujuan yang sangat mulia dari Allah sendiri.
Kita mendengar bagaimana Allah sendiri, melalui malaikat Gabriel, menghormati Bunda Maria ketika menyapanya dengan “Salam, hai engkau yang dikaruniai” (Luk 1:28). Kata aslinya menurut Vulgata adalah kecharitomene, yang artinya adalah diubahkan seluruhnya oleh rahmat Tuhan, jadi artinya Bunda Maria telah disucikan seluruhnya oleh Tuhan sendiri. Dengan demikian Bunda Maria dikuduskan bukan baru pada saat menerima kabar gembira (sebab jika demikian ia tidak seluruhnya diubah/ dipenuhi oleh rahmat Allah) melainkan sejak awal mula konsepsinya di dalam rahim ibunya, Allah telah menguduskan dan membebaskannya dari segala noda dosa. Hal ini diperoleh Bunda Maria oleh karena jasa pengorbanan Kristus, hanya saja ia memperoleh lebih dahulu, sebelum orang- orang yang lain, dan bahkan sebelum korban salib Kristus terjadi. Allah yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu berhak memberikan rahmat-Nya menurut kebijaksanaan-Nya. http://katolisitas.org/2010/10/15/sekilas-ajaran-gereja-tentang-bunda-maria/. Bernadette Soubirous di Lourdes, melihat seorang wanita cantik yang memperkenalkan dirinya sebagai "Yang Dikandung Tanpa Noda" dan para umat percaya bahwa wanita tersebut adalah Perawan Suci Maria.http://id.wikipedia.org/wiki/Dikandung_Tanpa_Noda. Dogma Maria Bunda Allah dimaklumkan dalam Konsili Efesus pada tahun 431.
Dalam Luk 1: 29 dikatakan Bunda Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Dari semula, Roh Bunda Maria sudah disadarkan sehingga Dia menyadari kehadiran Tuhan dan menginspirasi setiap keputusannya sehingga pernyataan Ilahi yang disampaikan malaikat Gabriel tidak membuatnya takut.
Malaikat Gabrial mengatakan: “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi,” (Luk 1: 32) merupakan salah satu ayat yang menjadi dasar mengapa Bunda Maria disebut Bunda Allah. Martin Luther mengatakan “Ia [Maria] layak disebut tidak saja sebagai Bunda Manusia, tetapi juga Bunda Allah … Adalah pasti bahwa Maria adalah Bunda dari Allah yang nyata dan sejati.” (Weimar edition of Martin Luther’s Works (translation by William J. Cole), vol 11, 319-320)
Kata Bunda Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Luk 1: 34). Bapa Paus Yohanes Paulus II dalam Mulieris Dignitatem, 17 mengatakan: “Di dalam tatanan alamiah biasa, keibuan adalah hasil dari ‘hubungan’ timbal balik antara seorang pria dan seorang wanita dalam kesatuan perkawinan. Maria, kukuh dalam keputusannya untuk menjaga keperawanannya, mengajukan pertanyaan ini kepada bentara Ilahi, dan memperoleh dari bentara itu penjelasan: Roh Kudus akan datang atasmu- keibuanmu bukan akibat ‘hubungan’ perkawinan tetapi merupakan karya Roh Kudus; ‘kekuatan dari Yang Mahatinggi’ akan ‘menaungi’ misteri pembuahan dan kelahiran Putra; sebagai Putra dari Yang Mahatinggi, Ia sepenuhnya diberi kepada Allah semata-mata, dengan cara yang hanya diketahui oleh Allah. Oleh karena itu, Maria tetap mempertahankan keperawanannya, ‘Aku tidak mempunyai suami’ (bdk. Luk 1:34) dan pada waktu yang sama, ia menjadi seorang ibu. Keperawanan dan keibuan berada berdampingan dalam Maria; mereka tidak saling mengucilkan atau membatasi diri satu sama lain...”
Dengan mengatakan “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu,” (Luk 1: 38) tidak berarti Bunda Maria merendahkan dirinya dengan kerendahan hati palsu, tetapi justru mengekspresikan iman dan penyerahan dirinya serta menyadari sepenuhnya bahwa segala pujian yang diberikan kepadanya adalah milik Allah semata-mata. Allah tidak membutuhkan seorang wanita untuk membuat tubuh manusia, tetapi Allah menginginkan seorang ibu untuk PuteraNya, dan karenanya Allah melihat kepada Bunda Maria dengan cinta yang lebih besar dibandingkan kepada ciptaan lain, karenanya Bunda Maria disebut penuh rahmat. Ayat ini adalah salah satu ayat favorit saya. Ketika akan memulai proses mengenal kehendak Allah, apakah menjadi biarawati atau tetap sebagai awam, ayat inilah yang menjadi ayat penghiburan sekaligus ayat pengingat bahwa yang utama adalah mencari kehendak Allah.
Lewat peristiwa Bunda Maria menerima kabar gembira dari malaikat Gabriel ini, kita diundang untuk meneladan Bunda Maria untuk selalu rendah hati dalam mencari dan mengikuti kehendak Allah dalam hidup kita. Dengan demikian kita semakin bersatu dengan Allah sehingga mengurangi kecenderungan pada kelekatan-kelekatan yang tidak teratur yang membawa konsekuensi dosa. Resiko memilih hidup sebagai orang yang menerima panggilan Allah memang sangat tidak mudah dan ringan. Lebih mudah menolak panggilan dan tugas dari Allah, apalagi jika dirasakan tidak masuk akal, menakutkan dan menimbulkan penderitaan fisik, mental dan spiritual.
Saya akan menutup renungan ini dengan beberapa pertanyaan refleksi:

1. Bagaimana kita sendiri menyikapi tawaran-tawaran Allah dalam hidup kita selama ini?

2. Belenggu-belenggu seperti apa dalam hati kita yang membuat kita ragu, takut dan menolak tawaran Allah dalam diri kita?

3. Apakah kita sudah berbahagia dengan menuruti keinginan-keinginan diri kita sendiri selama ini sekalipun tidak sesuai dengan kehendak Tuhan?

Guangzhou, 27 Mei 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. Renungan ini dibawakan untuk PDKK Hati Kudus Yesus Guangzhou pada 27 Mei 2011, sebagian adalah terjemahan bebas dari komentar Christian Community Bible-Catholic Pastoral Edition dan renungan F.X. Dany Haryanto.