Renungan: Kuasa Doa


Shalom!

(Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!

Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.

Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.

Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.

Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya. Yak 5:13-18)

Saya mengambil bacaan di atas karena malam ini saya akan membagikan tentang kuasa doa. Kita mungkin sering mendengar bahwa doa besar kuasanya tetapi apakah kita sungguh mengalami kuasa doa dalam hidup kita sehari-hari, ketika mengalami masalah besar dan kecil? Lewat bacaan di atas, kita diajak untuk berdoa ketika sakit dan menderita, untuk saling mendoakan dan juga melihat bagaimana kuasa doa di masa nabi Elia.

Pengalaman saya sendiri tentang kuasa doa berhubungan dengan cuaca sudah saya sharingkan dalam persekutuan doa dua minggu lalu, diantaranya bagaimana saya tidak merasa kedinginan setelah turun salju yang pertama kali saya alami atau bagaimana baju saya tetap kering di balkon asrama sekolah di tengah hujan lebat.

Tentu saja, kuasa doa tidak selalu sesuai dengan yang kita inginkan dan pada waktu yang kita diinginkan, tetapi tentu ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk tidak berdoa lagi dan lagi. Kita tentu pernah mendengar cerita tentang doa Santo Monika untuk memohon pertobatan St. Agustinus yang baru terkabul setelah tujuh belas tahun http://id.wikipedia.org/wiki/Santa_Monika. Ada yang mengatakan Tuhan seringkali lambat tetapi tidak pernah terlambat.

Kuasa doa adalah milik Allah sepenuhnya, sehingga tidak tergantung kadar iman kita, rumusan kata-katanya, cara mendoakannya, frekuensinya, posisi ketika mendoakannya, adanya patung, lilin, dll meskipun semuanya ini bisa membantu kita untuk berdoa dengan lebih khusuk.

Dalam Katekismus #2559 dikatakan:"Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik" (Yohanes dari Damaskus, f.o.3,24).... dan dalam Katekismus #2567 dikatakan: ”Sebelum manusia memanggil Tuhan, Tuhan memanggil manusia. Juga apabila manusia melupakan Penciptanya atau menyembunyikan diri dari hadapan-Nya, juga apabila ia mengikuti berhalanya atau mempersalahkan Allah, bahwa Ia telah melupakannya, namun Allah yang hidup dan benar tanpa jemu-jemunya memanggil setiap manusia untuk suatu pertemuan penuh rahasia dengan-Nya di dalam doa. Dalam doa, gerak cinta kasih Allah yang setia ini, pertama-tama datang dari Dia; gerak manusia selalu merupakan jawaban.

Menurut Francis MacNutt (http://www.christianhealingmin.org/): Para rasul bukanlah sarjana teologi atau orang genius, tetapi mereka dipilih dan diberi kuasa oleh Tuhan Yesus dan Roh Kudus untuk meneruskan karya Allah, orang awam dimanapun harus berdoa penyembuhan di rumah mereka dan dalam hidup mereka sehari-hari. Allah tidak membutuhkan orang dengan talenta/sumber daya yang spektakuler. Allah membutuhkan orang biasa yang menawarkan kasih dan pertolongan kepada seseorang yang sedang terluka. Menjawab panggilan Allah sebagai pelayan doa berarti kita bersedia menjangkau orang lain kapan pun, dimana pun, dan kepada siapa pun Allah meminta kita melakukannya, baik ketika melakukan pelayanan secara formal maupun ketika berada bersama orang lain ketika melakukan aktivitas sehari-hari. Ada dua elemen dalam doa penyembuhan: kata-kata yang diucapkan dan penumpangan tangan”

Dari tulisan di atas tampak bahwa kita semua, tidak hanya kaum religius tetapi juga kaum awam, dipanggil untuk menjadi pelayan doa dalam hidup kita sehari-hari. Jadi bila ada orang yang sedang terbeban, kita bisa mendoakannya, baik sendiri maupun bersamanya, sehingga kita boleh mengalami betapa besarnya kuasa doa.

Janganlah kecewa bila mereka menolak untuk diajak berdoa bersama, karena tidak semua orang terbuka untuk melakukannya, tetapi kita tetap bisa mendoakannya secara pribadi. Perlu juga diingat untuk menjaga kerahasiaan pembicaraan dengan yang bersangkutan.

Salah satu rumusan yang bisa dipakai adalah sebagai berikut:

Tanda Salib

(Hening, tumpangkan tangan di atas bahu/dahi/bagian yang sakit dengan memberi jarak)

Terima kasih ya Allah atas kehadiranMu pada saat ini.

Terima kasih atas rahmat kehidupan (Nama).

Terima kasih atas segala berkat dan rahmat yang telah Engkau curahkan kepadanya.

Terima kasih atas cinta yang ada diantara (Nama suami/istri/anak) yang mengalir dari cintaMu sendiri yang tidak bersyarat.

Engkau tahu …(sebutkan beberapa kenyataan yang ada) dan betapa kami berharap akan…..(sebutkan permohonannya)

Kami tahu kami tidak berkuasa melakukan apapun, tapi kami percaya bahwa rahmatMu cukup untuk mengabulkan permohonan kami ini.

Atas nama Yesus Kristus, kami mohon (ulangi lagi permohonannya)

Berikanlah penghiburan sebagaimana yang Engkau janjikan sejak awal mula kehidupannya dalam rahim ibunya.

(tawarkan ybs untuk berdoa)

Sekali lagi yang Allah, terima kasih atas rahmat kehidupan, segala berkat dan rahmat, cinta, penghiburan,….

Semuanya ini kami mohon dengan perantaraan Kristus Tuhan kami.

Bapa Kami

Salam Maria

Kemuliaan

Sebaiknya memberitahu yang bersangkutan, bahwa setelah tanda salib kita akan hening sejenak dan setelah kita berdoa, kita akan menawarkan yang bersangkutan untuk berdoa juga dan kemudian kita akan melanjutkannya. Juga menanyakan apakah kita diperbolehkan menumpangkan tangan. Dengan mengajak yang bersangkutan untuk berdoa bersama, menjadikan kita rendah hati karena terkabulnya bukan karena doa kita pribadi tetapi karena doa yang bersangkutan juga. Berdoalah dengan membuka mata sehingga kita bisa melihat kondisi yang bersangkutan, seperti menangis, duduk dengan nyaman/tidak, dll sehingga kita bisa memberinya tissue atau membuatnya merasa nyaman, dll. Terkadang yang bersangkutan merasa hangat pada bagian yang sakit.

Ajakan untuk berdoa bersama ini juga bisa dilakukan melalui telepon, bisa dengan meminta yang bersangkutan untuk menumpangkan tangan pada bahu/dahi/bagian yang sakit.

Saya akan menutup renungan ini dengan mengutip St. Vincensius a Paulo: “Berilah aku seorang pendoa, maka ia akan mampu melaksanakan segalanya.”

Mojoagung, 29 Juli 2011

Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. Renungan ini dibawakan untuk PDKK St. Aloysius Gonzaga Mojoagung pada 29 Jul 2011

Sharing: A Learning from Learning Sign Language



My second semester of Mandarin study will be finished in June 2011 and it means I still have two semesters to go.
As for now, I am learning to write around 1200 Chinese characters (from our reading and writing classes, excluding new words from listening and conversation classes) but I know I can’t remember how to write most of it even though I have better ability to recognize the characters. My major problem is still the tones especially in the sentences as there are several regulations e.g. if there are two third tones, the first third tone should be pronounced as the second tone. That’s why my conversation grade is always the lowest and I usually mention about it if I talked about my grades.
One of the Indonesian students wanted to have join activities with Chinese students so 30 Indonesians and Chinese visited Huiling Farm http://www.gzhl.org/gzhl_website/language/english/guangzhou/home/_index.html to work, eat, play and have Communion Service with Fr. Peter who connected and sponsored us. On the way back home, a Chinese guy sat beside me and he started to write on his notebook to communicate so I also replied by writing on his notebook. His name is Chai Cai. Since most of the time I couldn’t read his Chinese handwriting as he wrote quickly in a moving bus and I only know a few of Chinese characters so both of us started to communicate by using Chinese characters in our cellphones. He taught me several words in sign language and eager to teach more words. After that we communicate through text messages and QQ.com. Two weeks later, four Indonesians and I ate together with him and then we went around Linhexi subway station and Guangzhou East Train Station. He taught us several words in sign language so we can have better communication even though we also communicate by writing and speaking loudly. As I am willing to be his elder sister, he calls me 莉莉姐姐(Lili jiejie.
At this time, I am not interested to learn any new language but here God sends him to teach me sign language even though only a few words. Knowing him is a holy coincidence and from my communication with him, I learned that conversation (with sound) is not always the important thing. I remember a quotation by Zeno (335 BC-264 BC), The reason we have two ears and only one mouth, is that we may hear more and speak less.

Guangzhou, May 31, 2011



Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M./

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. This article was published in Maryknoll Sisters China Region Newsletter No. 15, Jul 2011.