Opini: Kristen atau Katolik

Sugeng: Maria, kamu Kristen ya?
Maria : Oh…bukan!
Sugeng: Trus…
Maria : Aku Katolik

Penggalan percakapan di atas mungkin sudah sering kita dengar atau bahkan mungkin kitalah yang menjadi pelakunya. Sebagai seorang Katolik bisa jadi kita akan menjawab seperti jawaban Maria bila mendapat pertanyaan yang serupa. Adakah yang aneh pada jawaban Maria tersebut sampai-sampai harus ditulis di awal opini ini?

GEREJA KRISTUS
Menurut A. Heuken, SJ dalam Katekismus Konsili Vatikan II yang disebut Gereja Kristus adalah “Israel Baru” yang bermusafir pada jaman ini sambil mencari tempat tinggal yang akan datang dan tetap. Dikatakan demikian karena Kristus telah memperoleh Gereja ini dengan darahNya, menjiwainya dengan RohNya dan melengkapiNya dengan sarana-sarana yang cocok untuk membina suatu kesatuan kemasyarakatan yang tampak.
Dalam Syahadat Para Rasul, Gereja Kristus ini kita akui sebagai Gereja yang satu, kudus, Katolik dan Apostolik. Kekatolikan Gereja Kristus adalah anugerah Allah sendiri, yang artinya universal atau umum. Dari sinilah munculnya istilah Gereja Katolik, yang berusaha secara keras dan terus menerus untuk merangkum seluruh umat manusia dengan segala harta rohaninya di bawah Kristus sebagai Kepala dan kesatuan RohNya.
Hanya melalui Gereja Kristus yang satu, kudus, Katolik dan Apostolik inilah orang dapat memperoleh semua sarana penyelamatan. Sebab kita percaya bahwa hanya kepada kerekanan Para Rasul yang diketuai oleh Santo Petrus itulah Tuhan menyerahkan semua berkat Perjanjian Baru untuk membentuk satu Tubuh Kristus di dunia ini.
Tetapi, meskipun Gereja Kristus bersifat satu sejak awal sejarahnya telah diwarnai oleh perpecahan-perpecahan. Ini diawali dengan pengkhianatan Yudas Iskariot, yang merupakan perpecahan “Umat” yang masih embrional. Perpecahan besar dalam sejarah Gereja Kristus adalah timbulnya Protestantisme pada tahun 1517 di bawah pimpinan Martin Luther. Sejak saat itulah muncul istilah umat Protestan.
Dengan berpegang pada uraian di atas, maka jawaban Maria-dan mungkin jawaban kita juga-seperti tersebut di atas akan dicoba untuk ditelaah.
Jadi, semua orang yang percaya kepada Kristus dan dibaptis dengan tepat secara sah dapat disebut sebagai umat Kristen. Tetapi yang dapat disebut sebagai umat Katolik adalah orang Kristen yang mengakui kepemimpinan Paus di Roma, dan oleh karenanya sering juga disebut Roma Katolik.
Tetapi istilah yang biasanya ada dalam masyarakat adalah Kristen dan Katolik. Hal ini, oleh orang awam khususnya, dapat ditafsirkan orang Katolik bukanlah orang Kristen! Tentu ini tidak tepat, dan yang lebih tepat adalah orang Protestan dan orang Katolik karena seperti telah diuraikan di atas bahwa umat Kristen bukan hanya umat yang mengikuti aliran Protestanisme.
Oleh karena itu sebaiknya Maria menjawab demikian:
Sugeng: Maria, kamu Kristen ya?
Maria : Iya…tapi Katolik
Jadi, sebutan yang paling tepat untuk umat Katolik adalah umat Kristen Katolik bila dipadankan dengan umat Kristen Protestan. Bisa juga disebut umat Katolik bila dipadankan dengan umat Protestan (bukan umat Kristen) dengan pemikiran bahwa Katolik juga tetap umat Kristen berkat pembaptisan yang telah diterima dari Gereja Kristus. Pemikiran ini perlu karena bukan tidak mungkin orang Katolik tidak merasa sebagai orang Kristen karena sebutan orang Kristen identik dengan orang Protestan!
Akhirnya, semoga pemikiran ini ada manfaatnya bagi sidang pembaca!

A.B. Lindawati P. (Pengamat masalah sosial kemasyarakatan dan gerejani, tinggal di Mojoagung)

P.S. Tulisan ini dimuat di Buletin SUKA Juli 1994

Sharing: The Last Month of Summer Break









As I waited for boarding at Jakarta airport, I met two guys from Hong Kong and Guangzhou so we had a conversation in English and Mandarin during the trip, one of them told me about Qin Shi Huang the first Emperor in China http://en.wikipedia.org/wiki/Qin_Shi_Huang.
I brought my old writing in the early 1990 from home so I started to re-type and upload it in my blog. I think it’s still worth reading besides it’s also broadened the content of my blog.
During my stay with my sisters in King’s Park convent, I had a surgery to remove an impacted wisdom teeth so I was resting as per doctor’s suggestion. Thank’s God I didn’t feel painful so I didn’t have to take the pink pain killer pills from the doctor even though it’s little bit swollen for a week. I continued to read “Dalam Bimbingan Santo Vinsensius” (=In the guidance of St. Vincent de Paul).
During the Indonesian Mass on August 21, 2011 at Christ the King Chapel, I shared my vocation journey. I was moved when I said “I realize that how little I can do in service to the universal mission of the Church but how big I am encouraged to keep move forward because mission is not just a matter of doing things for people, it is first of all a matter of being with people, of listening to, sharing and praying with them,” so I should stop in the middle of my sentence. Later on, I was moved again when Ross gave a support to continue my religious journey through facebook and then I was in tears as I felt I couldn’t hold the differences in love and prayer. The next morning, I saw a rainbow on my way to St. Jerome’s Church. Rainbow is a sign that God keeps his promise (to be with me always, to the very end of the age). What a consolation!
While staying with my sisters at Hung Shui Kiu, I attended the farewell party of Fr. Memo, MG and also had lunch with his community as he would go back to Mexico.
Sr. Helen’s friend invited us to join a boating trip from Tsim Sha Tsui Pier to have lunch at Lamma Island and then went to Repulse Bay. I also attended Sr. Helen’s 80th birthday party held by Keswick Foundation http://www.keswickfoundation.org.hk.
As I took a rest after walking around the compound of the Giant Budha http://www.np360.com.hk/html/eng/lantau/po-lin.html#back, I met a woman whose husband passed away during their vacation in Hong Kong. I only could say that I would pray for him and the rest of the family. I also watched the Ngong Ping Shaolin Showcase.
For Sunday Masses, I had a chance to attend English Mass at St. Anne’s Church, Tung Chung Catholic Secondary Church, Mandarin Mass with traditional characters at Wah Yan College, Indonesian Mass at Catholic Center and Christ the King Chapel.
I am grateful to hear from people whom I prayed with, that God answered our prayers. God answers our prayers in God’s time for many reasons as St. Paul said in Ecclesiastes 3:1: “There is a time for everything, and a season for every activity under the heavens.”
I was staying with my sisters in Macau on Sep 1 - 4. I attended a trilingual Mass: Indonesian, English, Portugese at Trappistine Community Our Lady Star of Hope, visited Ruin of St. Paul, Canossian Convent, Maritime Museum, St. Lawrence’s Church, St. Agustine’s Church, Sr. Anne’s favourite library and had supper with the choir members of St. Joseph the Worker’s Church.
My Chinese classes will begin on Sep 16, it means three months without regular classes. I am sure I forget a lot of it. For several times, I said “zhe ge” when I wanted to say “this one” or “ini.” Once, I saw θΏ™,and I forgot what character is that! Then I checked my dictionary and it’s “zhe!” I usually listen to the listening lessons through my ITouch.
Thank you very much for your warm welcome, hospitality, generosity during my last month of summer break 2011. May God continue to bless your missionary journey.

Guangzhou, Sep 6, 2011


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Puisi: Teruntuk Seorang Clara

Suatu hari,

berbulan yang lalu

kamu datang dengan sebuah berita,

berita yang cukup mengejutkanku

sebuah tawaran datang kepadamu

Ketua Mudika, itulah isi tawarannya.

Tentu saja aku tidak bisa memberi apa-apa

kecuali anjuran untuk menerima dan sebentuk dukungan.

Hari demi hari berlalu

dan bulan pun berganti

sudah cukup banyak cerita bergulir dari bibirmu
segala suka dan duka sebagai seorang ketua
tapi di atas semuanya itu
kulihat kamu cukup sukses
dalam mendinamiskan kegiatan mudika.
Tapi,
hari ini
Kamu datang lagi dengan sebuah berita,
berita yang lagi-lagi mengejutkanku.
Pengunduran diri, itulah isi beritamu.
Tapi kali ini bukan dukungan yang aku berikan
karena…
ini bukanlah berita yang bisa aku duga sebelumnya
dan juga tentunya tidak aku harapkan
sekitar jam sembilan kamu masih sempat mengatakan
“Paskahan, koor sukses”
Tapi jam satu kamu datang dengan berita yang mengejutkan itu.
Terus terang aku menyayangkan keputusanmu yang satu ini
karena aku berharap kamu bisa menjadi contoh
bagi kaum muda yang lain
yang mau memberi dari kekuranganmu.
Mungkin aku tidak akan pernah mendengar lagi
Cerita tentang kegiatan Mudika di Paroki kamu
Malam ini,
ketika kutulis tulisan ini
aku masih sangat berharap kamu masih membuka untuk sebuah pertimbangan
karena aku juga masih berharap
keputusanmu itu kamu ambil dengan “emosi.”
Tidakkah kamu lihat
adik-adikmu masih butuh sosok kamu
sosok yang siap membimbing dan mendampingi mereka
Aku masih berharap…
dan semoga harapku ini sama dengan mereka,
adik-adikmu

Bogor, 20 April 1992

Yang masih berharap,

A.B. Lindawati

NB: Kugoreskan ini untuk C.Selly


Tambahan dari Selly 24 Agustus 2011: Ketua mudika pengganti adalah adik kelas yang selama ini dekat dengan Selly sehingga merupakan kaderisasi. Hikmahnya jadi ketua itu masalah mudah, bertahan di tengah badai adalah perkara tersulitnya.

Wawancara: Evangelisasi


Paroki St. Fransiskus Asisi yang terletak di Keuskupan Bogor memiliki jumlah umat sekitar 7000 orang, dengan 1800 kepala keluarga yang terbagi menjadi 5 wilayah. Paroki yang selalu mengadakan Novena Besar St Antonius dari Padua ini sudah mengadakan Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) angkatan ke V dengan peserta 40-50 orang setiap angkatan, dimana topiknya sama dengan kursus evangelisasi pada umumnya hanya saja ditambah dengan topik yang sesuai kebutuhan paroki seperti keluarga dan perkawinan, iman Katolik serta dewan paroki.
Menurut Romo Ridwan Amo, KEP di parokinya secara umum baik, terutama untuk kemajuan paroki. Khususnya umat menjadi terlibat dalam hidup mengereja. Kurang baik karena tidak semua yang ikut KEP mempunyai motivasi yang baik. Ada yang hanya sekedar ingin tahu atau bahkan terpaksa karena diajak temannya karena untuk menolak tidak enak. Ada yang tidak baik, merasa sudah tahu semua, sok tahu, padahal yang diterima baru dasar atau bagian kecil saja.
Alumni KEP ( bentuk jamak atau beberapa ) diharapkan ikut serta dalam warta gereja seperti yang tertera pada bagian akhir Injil Matius ( membawa kabar gembira ke segala bangsa) dengan mengikutkan dirinya dalam Gereja, bukan hanya menjadi penonton atau pendengar tetapi menjadi pemain. Secara konkrit terlibat dalam kelompok kecil dulu, mulai dari rukun,lingkungan, wilayah, paroki. Di rukun, walau tidak menjadi ketua rukun, membuat rukun bergerak dengan baik. Begitu juga di lingkungan , berperan mengaktifkan umat, supaya mereka menjadi contoh warga gereja yang baik. Kalau ada kesempatan untuk menjadi ketua atau staf kepengurusan gereja diterima dengan baik dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab sebagai anak-anak Allah.
Dalam prakteknya, menurut imam yang ditahbiskan pada 9 Februari 1990 ini, KEP ini belum lengkap meskipun sudah mengarah ke evangelisasi baru yang dicanangkan oleh Paus Yohanes Paulus II.
Sebagai imam yang baru bertugas di Paroki Sukasari pada 8 Januari 2006, mengharapkan alumni KEP senantiasa terus berkumpul, supaya tak hilang begitu saja, selesai. Namun senantiasa membagi pengalaman dalam menggereja dan berusaha menambah wawasannya.

Sedangkan Paroki St. Yosef yang terletak di Keuskupan Surabaya memiliki jumlah umat sekitar 3500 orang yang tersebar di kecamatan-kecamatan di Kabupaten dan Kotamadya Mojokerto (stasi Wunut, Pacet, Trawas dan kota) , Kabupaten Jombang (stasi Mojoagung), Kabupaten Gresik (Lingkungan Kedamean) serta Kabupaten Sidoarjo (stasi Krian). Paroki yang data awalnya ada di Paroki Santa Perawan Maria Kepanjen Surabaya ini sudah mengadakan Kursus Kitab Suci yang dimotori oleh awam.
Menanggapi evangelisasi, Romo Joko menyatakan bahwa dalam Mat 28 : 19 tertulis “ Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. Ekaristi dilihat sebagai puncak dan sumber iman kita. Setiap mengakhiri Ekaristi, selalu ada perutusan. Selama ada Ekaristi selalu evangelisasi karena dalam Ekaristi selalu diperdengarkan Sabda Tuhan, yang tentu tidak akan kita miliki sendiri. Kita diutus untuk terus melakukan evangelisasi. Sifat perutusan yang terus menerus ini juga karena jaman yang terus berubah. Paus Yohanes Paulus II dalam pesan untuk Minggu Misi tahun 2004 juga mengingatkan karena evangelisasi kita tidak pernah sempurna. Evangelisasi adalah tugas pokok yang harus terus kita lakukan.
Di Paroki Mojokerto sudah ada kursus Kitab Suci meskipun ada kesan peserta tidak segera berani membagikan apa yang telah didapat dalam kursus. Tetapi ini juga menyangkut legitimasi dari umat yang lain juga. Walau secara umum, umat keseluruhan diajak untuk semakin dekat dengan Kitab Suci karena evangelisasi selalu harus mendasarkan diri pada Kitab Suci.
Menurut imam yang ditahbiskan 9 September 1993 ini, kita tidak perlu mempersoalkan kata baru dalam evangelisasi baru karena semua terus berubah sebagai konsekuensi logis dari jaman yang terus berubah, yang tentu mempengaruhi evangelisasi kita.
Gerakan mendekatkan umat pada Kitab Suci harus semakin gencar. Ini sebenarnya sudah dilakukan dengan banyaknya renungan-renungan yang berhubungan dengan Kitab Suci yang sesuai dengan kalender liturgi, yang diharapkan akan membantu umat untuk dapat akrab dengan Kitab Suci karena seringkali umat yang tidak mengerti Kitab Suci menjadi malas untuk setia membaca Kitab Suci.

Linda AB

Serba-Serbi: Lebih Jauh dengan Alkitab

PENGANTAR

Dalam bulan ini, Gereja merayakan Hari Minggu Kitab Suci Nasional. Ada baiknya kita mengenal lebih jauh Alkitab kita, bukan sekedar membaca atau mendengarkan ayat-ayat yang tertulis di dalamnya. Beberapa pertanyaan yang mungkin selama ini ada di benak pembaca, dicoba dijawab lewat tulisan ini.

Alkitab biasa disebut Perjanjian karena berisi perjanjian antara Allah dengan manusia, yang merupakan suatu hubungan yang istimewa. Perjanjian yang terjadi sebelum Yesus Kristus dicatat dalam Perjanjian Lama, sedangkan yang terjadi melalui Yesus Kristus dicatat dalam Perjanjian Baru, yang merupakan kelanjutan, peningkatan dan penyelesaian perjanjian sebelumnya.

NASKAH ASLI SUDAH HILANG

Alkitab terdiri dari beberapa kitab, dimana kitab-kitab yang diterima oleh semua gereja disebut Kanonika (=termasuk daftar kitab-kitab suci). Di samping itu masih ada yang disebut Deuterokanonika (=termasuk daftar kitab-kitab suci yang lain) yang hanya dipakai oleh Gereja Katolik dan Yunani Ortodoks.

Daftar resmi kitab-kitab suci semula disusun oleh ahli kitab Yahudi. Jemaat Kristen semula memakai daftar ini tetapi kemudian menyusun daftar sendiri, yang jumlahnya lebih banyak. Gereja Katolik meneruskan tradisi jemaat Kristen ini, sedangkan jemaat Reformasi menggunakan daftar dari ahli kitab Yahudi.

Naskah-naskah yang ditulis oleh penulis asli sudah lama hilang. Naskah-naskah ini ditulis di atas semacam kertas yang terbuat dari sejenis gelagah yang banyak terdapat di Mesir (disebut papirus) atu di atas kulit binatang yang telah diolah (disebut perkamen).

Naskah–naskah ini disalin dengan tangan sehingga sangat mungkin terdapat kesalahan yang kebetulan saja terjadi atau sengaja dibuat atas dasar macam-macam pertimbangan atau karena cara menulis dan bentuk huruf yang berbeda. Tentunya sudah diupayakan untuk memulihkan seperti asliny, tetapi ternyata tidak selalu berhasil baik.

Naskah Perjanjian Lama ditulis dalam Bahasa Ibrani, Aram dan Yunani, sedangkan Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Saat ini Alkitab sudah diterjemahkan lebih dari 1500 bahasa, tetapi ternyata tidak satupun terjemahan yang memuaskan semua orang dan tak satupun yang dapat sepenuh-penuhnya dipercayai.

Pembagian atas bab dan ayat baru dilakukan sekitar tahun 150M, yang dimaksudkan untuk memudahkan mengutip dan menemukannya kembali. Pembagian ini ternyata tidak sama dalam semua terbitan.

KARYA MANUSIA DAN KITAB ALLAH

Alkitab serentak karya manusia dan kitab Allah. Melalui pikiran, perasaan dan perkataan manusia, Allah menyatakan rencana, karya dan kehendakNya kepada kita, umat pilihannya.

Alkitab, yang merupakan pengalaman iman selama 2000 tahun, haruslah dibaca sesuai cirinya. Contohnya dalam Perjanjian Lama banyak berisi hokum, maka haruslah dipahami bahwa ini berlaku masyarakat tertentu, pada waktu tertentu dan pada tingkat perkembangan tertentu, sehingga tidak bisa berlaku dimana-mana dan senantiasa.

Alkitab bukanlah ilmu pengetahuan atau buku sejarah atau buku pedoman ilmu kemasyarakatan, jadi tidak akan ditemukan bagimana masyarakat manusia seharusnya tersusun. Juga bukan katekismus melainkan kitab Agama yang menceritakan tentang Allah dan tentang manusia dalam hubungan timbale balik, siapa Allah bagi manusia dan siapa manusia di hadapan Allah. Alkitab juga ditulis menurut alam pikiran masyarakat Israel pada waktu itu, yang tentunya juga lain bila dibandingkan dengan kondisi saat ini dan tempat lain.

Naskah-naskah yang ada ini tidaklah disusun menurut urutan waktu penulisan sehingga tidak heran bila mengetahui bagian pertamanya ditulis tidak paling awal.

Alkitab perlu dibaca sebagai kita yang menyapa kita sendiri, membina dan merangsang kepercayaan kita supaya dapat menghadapi masa yang akan dating dan meneruskan iman kepercayaan yang sama. Alkitab ditulis oleh umat Allah dan bagi umat Allah sepanjang sejarah selanjutnya.

ALKITAB DI INDONESIA

Terjemahan dalam bahasa Indonesia diterbitkan sebagai Alkitab, yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam terjemahan baru, yang diselenggarakan oleh Lembaga Alkitab Indonesia, ditambah dengan Kitab-kitab Deuterokanonika, yang diselenggarakan oleh Lembaga Biblika Indonesia. Terjemahan ini diterima dan diakui oleh Majelis Agung Waligereja Indonesia. Umat Katolik tentunya dianjurkan untuk membeli Alkitab yang seperti ini.

Selain itu juga tersedia terjemahan ke dalam bahasa Indonesia sehari-hari Kabar Baik, Kitab Suci dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari. Yang terakhir ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan terjemahan standar seperti yang tertulis dalam alinea di atas, melainkan untuk melengkapi dan memenuhi kebutuhan.

Mojoagung, 23 Juli 1994


A.B. Lindawati P.

P.S. Dari berbagai sumber, diketik ulang pada 31 Agustus 2011