Renungan 2012: Hari Minggu Palma

(Bacaan Mrk 11: 1-10, Yes 50: 4-7, Fil 2: 6-11, Mrk 14: 1-15:47)
Hari Minggu ini adalah hari Minggu Palma, yang menandai dimulainya Pekan Suci, yang meliputi Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, Minggu Paskah.
Lewat bacaan prosesi daun palem, kita mendengar bagaimana Yesus naik keledai memasuki kota Yerusalem, dielu-elukan sebagai Dia yang datang dalam nama Tuhan oleh orang-orang yang melambaikan ranting-ranting hijau dan menghamparkan pakaiannya di jalan. Keledai dalam budaya Timur adalah simbol binatang damai, seorang raja akan menunggang kuda bila akan memulai perang dan menunggang keledai bila datang dengan damai. Karenanya masuknya Yesus ke Yerusalem dengan menunggang keledai ini melambangkan kedatanganNya sebagai Raja Damai. Di beberapa tempat bahkan sampai sekarang, ada kebiasaan untuk menutupi jalan yang akan dilalui seseorang yang dianggap dihormati dengan kain atau karpet. Yesus juga mendapat perlakuan yang sama karena orang Yahudi berpikir bahwa Yesus akan memaklumkan diriNya sebagai Mesias tetapi Yesus menolak untuk dimaklumkan sebagai Mesias sebagaimana gambaran mereka tentang Mesias, yaitu sebagai Raja yang penuh kuasa, yang membebaskan mereka dari penindasan, kelaparan dan pemimpin yang tidak bertanggungjawab. Dalam bacaan tidak disebut pemakaian daun palem, tetapi dalam tradisi Yahudi, daun palem adalah lambang kemenangan. Sesudah Minggu Palma, daun palem disimpan dan dibakar tahun berikutnya untuk digunakan sebagai abu untuk Rabu Abu. Warna liturgi minggu ini adalah merah, warna darah, yang melambangkan kurban penebusan Kristus, yang digenapi dengan memasuki kota Yerusalem, untuk memenuhi kisah sengsara dan kebangkitanNya.
Yesus sudah mengetahui tentang penderitaan yang akan dialaminya di Yerusalem, sebagaimana dalam Mat 10: 33-34, tetapi karena ketaatanNya pada kehendak Bapa, maka Dia berangkat juga ke Yerusalem. Dalam bacaan pertama kita mendengar tentang ketaatan seorang hamba Tuhan, yang percaya bahwa Tuhanlah yang menolongnya dan tidak akan mendapat malu. Beranikah kita taat kepada kehendak Bapa sepenuhnya, yang tahu rancangan terbaik untuk hidup kita? Kalau kita melihat kejadian-kejadian yang dialami Yesus secara terpisah, kita mungkin tidak mengerti rencana Allah di balik kisah sengsaraNya, seperti halnya kita mungkin tidak mengerti ada begitu banyak penderitaan di dunia ini.
Ketaatan Yesus sampai mati di atas kayu salib berbuah karunia nama di atas segala nama sebagaimana yang kita dengar dalam bacaan kedua. Kekristenan selama seratus tahun terakhir berkisar 33 persen, artinya satu dari tiga orang di bumi adalah orang Kristen (entah Katolik, Protestan, Orthodox), sedangkan pada tahun 2010, jumlah orang Katolik berkisar 17.5 persen dari populasi dunia, yaitu sebesar 1.196 bilyar.
Dalam Injil Markus kita mendengar tentang rencana pembunuhan Yesus, pengurapan Yesus, pengkhianatan Yudas, Perjamuan Paskah Yesus dengan murid-muridNya, penangkapan, pengadilan, kisah sengsara dan kematian Yesus. Alasan penyiksaan dan penyaliban Yesus oleh pemerintah Ramawi adalah seperti yang tertulis di salibNya, yaitu pengakuanNya sebagai Raja orang Yahudi, meskipun KerajaanNya bukan dari dunia ini.
Lewat Minggu Palma ini, kita diajak untuk menyadari bahwa hidup kita mengambil bagian dalam hidup Yesus, ada penderitaan-besar dan kecil-meskipun sangat mungkin, tidak sampai mati di kayu salib. Bahwa kita dipanggil tidak hanya untuk bersorak-sorak menyambut kedatangan Yesus seperti orang Yerusalem, tetapi juga untuk meringankan penderitaan sesama sehingga Kerajaan Allah datang di muka bumi; sebagaimana yang kita doakan dalam doa Bapa Kami, lewat panggilan perutusan kita masing-masing, lewat ketaatan kita kepada kehendak Bapa.

Untuk bisa taat, kita harus bersedia mengosongkan diri. Jean-Marie Howe dalam “Cistercian Monastic Life/Vows: A Vision,” p. 367, (7) mengatakan …Tidak cukup kalau hanya terbenam dalam…kehidupan. Kita harus membiarkan diri kita dibajak sehingga alur diri kita menjadi semakin dalam, sehingga bumi kita menjadi semakin lembut. Ini adalah saat dimana diri kita dipahat, saat membajak diri ini adalah pengosongan diri (kematian yang harus mendahului hidup yang baru, kelahiran kembali) dan pengosongan diri tidak mudah. Ketika kita menjadi terbuka, rahmat dapat tercurahkan…
Yesus memberi Hukum terutama, yang pertama, Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kalau kita akan naik pesawat atau kereta api yang sudah terjadwal, tentu kita berusaha untuk tidak terlambat kalau tidak ingin membeli tiket yang baru. Apakah kita juga tepat waktu dalam memenuhi kewajiban kita sebagai orang Katolik: menerima sakramen-sakramen Ekaristi dan Pengakuan Dosa, berpuasa dan berpantang, dll. Minggu ini adalah minggu terakhir kita bersama-sama dengan Gereja melakukan pertobatan, tentu pertobatan pribadi bisa dilakukan kapan saja sepanjang tahun.
Yesus juga memberi Hukum terutama, yang kedua, Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Paus Paulus VI mengatakan kalau kita menginginkan perdamaian, bekerjalah untuk keadilan. Bagaimana kita bertindak dengan adil terhadap orang-orang di sekitar kita? Bagaimana kita melihat orang lain yang berbeda agama, suku, ras, pekerjaan, dll? Bagaimana kita membawa damai ketika terjadi pertikaian dan perbedaan pendapat? St. Theresa Avila dalam Puri Batin mengajak kita untuk melihat kelemahan kita sendiri dan membiarkan orang lain dengan hidupnya sendiri: karena mereka yang hidup dengan teratur seringkali terkejut dengan segala sesuatu, dan kita belajar pelajaran penting dari orang yang mengejutkan kita. Beliau juga mengatakan Penampilan luar dan tindakan kita mungkin lebih baik dari mereka, tetapi ini, meskipun baik, bukanlah hal yang paling penting; tidaklah beralasan bila kita mengharapkan bahwa semua orang akan mengikuti jalan kita, dan kita harus berusaha untuk tidak mengarahkan mereka pada jalan rohani yang mungkin kita sendiri tidak tahu…Adalah lebih baik untuk…hidup dalam keheningan dan harapan dan Tuhan akan memperhatikan milikNya.
Bagaimana kita berusaha untuk menjadi pribadi yang semakin sesuai kehendak Allah, menjadi wajah Kristus di saat ini dan di sini? Ada yang mengatakan mungkin kita adalah satu-satunya wajah Kristus yang pernah dilihat oleh orang-orang tertentu, jadi jangan lewatkan kesempatan langka ini!

Guangzhou, 29 Maret 2012


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.
Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

P.S. Sebagian materi renungan ini merupakan terjemahan bebas dari http://en.wikipedia.org, http://www.liturgies.net/Lent/holyweek/RC/palmsundayyeara.htm dan Community Christian Bible dan dibawakan untuk Komsel St. Theresia Guangzhou pada 29 Maret 2012

Sharing: 我的第一次普通话避静





叶修女告诉我说:。3月10-11日广州义工组安排了四旬期的避静。我原以为是3月 17-18日,所以我告诉她我不能参加参加慕道班避静,因为3月17-18日我有别的安排。然后她请我3月10-11日参加避静。我说我考虑一下,因为星 期六我跟印尼朋友们去医院看印尼病人,和他们一起祈祷。一天后,我告诉叶修女我要参加避静。
10号早上我们大概8点出发。除了叶修女和我以外,还有二十三位兄弟姐妹。从石室到博罗,我们一边唱歌一边看风景;一路上绿油油,很漂亮。
第一天,叶修女讲马尔谷福音5:21-43和诗篇23还有默想。吃完晚饭后,我们一起看电影《BEN-HUR》。
这是我第一次参加普通话避静,虽然很多词语的意思我不明白,可是叶修女说的很清楚所以我能掌握话题,因为她也讲圣经故事所以我更容易理解。在个人自我介绍 的时候,有的人介绍说,他很感谢天主,是主的恩赐使他们能认识天主。我也告诉大家,天主的安排比我想的更好和赐予给我更多的恩宠,就好像这次避静一样,我 没想到我能参加这个普通话避静,尤其在四旬期的时候;然后我又能认识很多很热情的教友,愿光荣归于天主。他能找他在我们身上所发挥的德能,成就一切,远超 我们所求所想的。
避静的地方很漂亮、很安静和很干净,修女做的饭也很好吃。这是我第一次喝汤不用汤匙,用不太标准的普通话聊天,因为大家都知道我是印尼华裔,所以都很照顾我。
第二天,我们在圣若瑟教堂一起参加普通话弥撒,然后听叶修女讲马尔谷福音9:14-29,最后轮流分享我们的避静感受。在分享中有些兄弟和姐妹还留下了感恩的泪水--感谢主无限的恩宠和眷顾。
午饭后,我们来到惠东梁化的耶稣圣心堂朝圣。本堂范神父和好几位教友已为我们准备好了客家饭和糯米酒来欢迎我们。回广州的时候我们也一起唱歌,除了我讲印尼的我们的天父 “Bapa Kami”,大家也一起轮着唱歌。
我感谢天主,也谢谢叶修女,能参加这个避静。感谢可以和兄弟姐妹一起唱歌、听课、祈祷、吃饭、洗碗、聊天,也感谢范神父和好几位惠东教友准备的晚饭。愿天主保佑大家。

P.S.This article was edited by 叶修女and can also be read in http://www.gzcatholic.org/info_Show.asp?InfoId=616&ClassId=49&Topid=0. The pictures can be accessed in: http://share.shutterfly.com/action/welcome?sid=0EbuWrFm4ZM2E9&emid=shareprintviewer&linkid=link5&cid=EM_sharview