Renungan 2015: Hari Minggu Pra Paskah Pertama


Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari "FREE daily Lent Reflections from Fr. Robert Barron" ( http://www.lentreflections.com/)

Godaan Pertama

Godaan-godaan yang dihadapi Yesus mungkin kelihatan sedikit asing bagi kita, tetapi pada kenyatannya, godaan-godaan ini terletak pada semua godaan manusia.  Godaan-godaan ini adalah pengganti klasik dari yang baik, yaitu kehendak Tuhan sendiri.

Godaan besar yang pertama adalah memusatkan hidup kita pada barang-barang duniawi dan kepuasan hasrat jasmani: “Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepadaNya:” Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” (Mat 4:4)  Yesus, yang sedang kelaparan setelah berpuasa selama 40 hari, merasakan godaan untuk menggunakan kekuasaan ilahiNya untuk memuaskan keinginan jasmaniNya.   

Ini berarti Yesus merasakan tarikan untuk membuat pemuasan hasrat jasmaniNya sebagai pusat dan dasar dari hidupNya.  Ini adalah tarikan ke arah hedonisme – sebuah filosofi yang menyatakan bahwa hidup yang baik adalah hidup yang terpuaskan secara jasmani.  Makanan, minuman, seks, barang-barang duniawi, uang, kenyamanan, perasaan aman akan masa depan adalah nilai tertinggi bagi banyak orang, khususnya dalam masyarakat kita.

Banyak sekali orang, sepanjang sejarah dan sampai hari ini, terjerumus dalam godaan yang sangat kuat ini.  Godaan ini sangat kuat karena hasrat-hasrat ini sangat mendasar.  Thomas Merton mengatakan bahwa hasrat jasmani – akan makanan, kenyamanan, kesenangan, seks – adalah seperti anak kecil karena mereka sangat aktif dan sangat menggoda.

Hidup kita tidak akan menuju ke kedalaman jika kita didominasi oleh hasrat-hasrat jasmani.  Karenanya dalam ritual inisiasi kebanyakan orang-orang primordial, puasa atau pengurangan kepuasan jasmani sangat penting.  Hal ini juga menjadi alasan mengapa inisiasi ke dalam hidup yang penuh tuntutan, seperti dalam militer, seringkali juga termasuk pengurangan kepuasan jasmani.

Jiwa kita akan mati ketika kita membuka diri pada godaan karena jiwa telah terhubung dengan Tuhan, untuk perjalanan menuju yang ilahi, untuk penglihatan surgawi.  Ketika hasrat jasmani mendominasi, hasrat yang lebih mendalam dan kaya itu tidak akan pernah dirasakan atau diikuti.  Hasrat ini, sebagaimana yang dikatakan Merton, seperti anak kecil, terus meminta perhatian.

Itulah sebabnya Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”  Arti hidup jauh lebih besar dari kepuasan jasmani.  Kasih, kesetiaan, relasi, keluarga, hidup moral, kepuasan estetis, aspirasi akan Tuhan jauh lebih penting.  Betapa tragis ketika Anda berpikir bahwa hidup terbatas pada kepuasan pengalaman-pengalaman jasmani. 

Kutipan: Jangan memusatkan hidupmu pada kebutuhan-kebutuhan biologis dan psikologis.  Bukalah hidupmu pada kehendak Tuhan.

Renungan 2015: Rabu Abu

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari "FREE daily Lent Reflections from Fr. Robert Barron" ( http://www.lentreflections.com/)

Kembali ke Dasar

Pada permulaan musim pertandingan baseball (semacam kasti), pelatih harus mengajak para pemainnya belajar kembali ke dasar. Dia harus mengingatkan mereka pada tiga poin penting: cara membuat gerakan tangan, waktu untuk mengayun, dan pentingnya untuk melihat bola, dll.  Kehebatan pemain di musim pertandingan sebelumnya tidak berpengaruh.  Dia harus memulai latihan musim semi dengan hal-hal mendasar sebab sebelum dia dapat melakukan hal-hal yang besar dalam olah raga, dia harus yakin bahwa dia telah melakukan hal-hal yang sederhana dan mendasar dengan baik.  

Hal ini juga berlaku dalam hidup rohani.  Masa Pra Paskah adalah waktu untuk perbaikan, untuk kembali ke dasar, untuk mengingat hal-hal yang mendasar. Inilah alasan mengapa Gereja meminta kita melihat pada permulaan Kitab Kejadian, kisah tentang penciptaan dan kejatuhan manusia.

Mungkin kita berpikir bahwa kita telah sering mendengarnya – tetapi kita perlu mendengarnya lagi: “Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kej 2: 7)  Pada hari Rabu Abu, kita mendengar gema dari kalimat ini, “Ingatlah, Engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu” (Kej 3:19).

Pada hari Rabu Abu, kita diingatkan bahwa hidup kita berasal dari Tuhan.  Keberadaan kita berasal dari Tuhan.  Kita tidak memiliki apapun.  Kita tidak mempunyai apapun yang berasal dari diri kita sendiri.  Setiap tarikan nafas kita adalah sebuah pengingat akan ketergantungan kita kepada Tuhan, setiap denyut jantung kita adalah sebuah pengingat bahwa Tuhan adalah Allah.  

Dengan dimulainya masa Pra Paskah, mari kita mengambil waktu beberapa menit untuk merenungkan kenyataan bahwa tanpa Tuhan, kita bukan siapa siapa dan bersyukur bahwa Tuhan mencintai keberadaan kita.  

Kutipan:  Berserah kepada Tuhan berarti kepenuhan hidup, bukan kompromi dari kebebasan kita.