Easter Letter 2016

Dear brothers and sisters in Christ,

 

Look at the Cross and you will know what one soul means to Jesus. ~Mother Teresa

Happy Easter!
May the Risen Christ continue to bless you with good health, joy and peace!

          
How was your Easter Triduum Liturgy?  
     We, Maryknoll Sisters, just finished our Easter Vigil Mass followed by refreshments at our Center.  It’s my first Holy Week at our Center.  We had EasterTriduum morning prayers besides the liturgy for the Holy Thursday and Good Friday. I couldn’t hold back my tears during my visit to the Blessed Sacrament on Holy Thursday and the Veneration of the Cross on Good Friday. 
I attended part of  our Mission Institute Lenten Reflection besides translating several Lenten Reflections by Bishop Robert Barron into Indonesian language and uploaded it to my blog with their permission.
Participants of Maryknoll (Society, Congregation and Lay Missioners) Discernment Retreat participated both in the Maryknoll Society and Congregation Easter Triduum events.        Our Reflection group had a sharing session with four women, who are interested with Maryknoll Sisters, about Marylnoll ‘s charism and our vocation stories.
      I am enjoying my reflection phase at the Center: meeting and helping our sisters especially in the mailroom; having retreat and conversation about commitment, covenant and governance; attending workshop and mini course (Healing touch, Enneagram and Second Isaiah); Maryknoll Society Speakers Series on “Laudato Si” and part of the 60th session of the United Nations Commission on the Status of Women; reading books; watching movies both at the Maryknoll Society's  International Film Festival and at our Center; visiting several Maryknoll Society members across the street, the Indonesian community, participants of Maryknoll China Formators Project and several sight seeings in Washington DC, Philadelphia, and New York; as well as celebrating Lunar New Year, St. Patrick’s Day and Sisters' Jubilee.  I uploaded several articles about these activities in my blog.


      I continue with my chatting group ministry which numbers now more than  4,000 members in several places in over 20 chatting groups.  Several persons, whom I do not know, asked me to join them and send them faith related information for their chatting groups. I don’t know how many people are reading the information I have sent.
That’s all I can share for this Easter letter. 
         
Ossining-New York, March 26, 2016
with love and prayer,


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Renungan 2016: Minggu Paskah

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari http://www.lentreflections.com/
 
Kemenangan Paskah

Kristus Bangkit!  Alleluia!

Hari ini kita merayakan Kebangkitan Kristus dari kematian.  Apa artinya mengatakan, “Yesus menaklukan kematian?”

Yesus tidak banyak digambarkan sebagai guru etika dalam Injil, tetapi lebih banyak digambarkan sebagai pendekar kosmis, yang datang untuk berperang melawan kekuasaan penyakit, kebencian dan dosa.  Dia menunjukkan kekuasaan-Nya atas alam ketika dia menenangkan badai dan menyembuhkan mereka yang sakit.

Yesus berteriak memanggil kuasa gelap dan berperang melawan mereka, bukan dengan senjata dunia yang ganas, tetapi dengan senjata non-kekerasan, kasih dan pengampunan Allah.

Kosmos, yang telah bergerak ke satu arah, tampak mulai bergerak ke arah yang berlawanan melalui Yesus.  Kuasa perpecahan dan perpisahan sekarang dikalahkan.  Yesus sedang merajut kembali kosmos yang robek. 

Apakah kuasa pokok dunia?  Apakah sumber pokok kekerasan, dosa, dan perpecahan?  Jawabannya adalah kuasa maut. 

Kita melekat pada diri kita sendiri karena kita takut untuk meninggal; kita mencoba untuk mengurangi ketakutan kita melalui barang-barang duniawi, seks dan kekuasaan; kita menyerang orang lain dengan kekerasan.  Kematian merobek tenunan kosmos.  Seseorang dapat mengatakan bahwa ketakutan akan kematian merupakan asal dari semua dosa dan kekerasan dalam komunitas manusia.

Karenanya sebagaimana Yesus, serdadu Allah, datang untuk berperang melawan semua kuasa yang berlawanan dengan kehendak Allah, sebagaimana dia datang untuk membawa “ya” Allah kepada “tidak” dunia, maka dia harus menghadapi kuasa yang terakhir dan terbesar ini.

Yesus telah berdiri di lumpur ketidakberfungsian manusia sepanjang hidupnya, karena dia harus berhubungan dengannya dari dekat dan menariknya, sebagaimana dikatakan oleh St. Anselmus, berlian dari kotoran.

Yesus telah pergi ke kerajaan kematian dengan membawa terang dan kuasa Allah, Yesus juga memutuskan pegangan kematian yang menguasai kita.  

Jadi Kebangkitan Yesus adalah deklarasi kemenangan atas kuasa yang sangat mengerikan ini.


Awan gelap, yang menaungi hidup kita mengarahkan kita pada diri kita sendiri dan kekerasan, telah dihilangkan.  Kuasa yang menyandera kita telah dikalahkan.


P.S. Easter Letter saya bisa dibaca di http://anastasialindawatimm.blogspot.com/2016/03/letter-easter-2016.html , Sr. Anastasia B. Lindawati, MM

Renungan 2016: Hari Sabtu Suci

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari http://www.lentreflections.com/

Dia turun ke Tempat Penantian
Hari ini kita memperingati Hari Sabtu Suci, jeda yang tenang dan penuh duka antara Jumat Agung dan Minggu Paskah.  Saya tidak akan membagikan refleksi saya hari ini melainkan akan membagikan sebuah homili kuno, yang tidak diketahui penyusunnya.  Ini akan menghidupkan kalimat dalam doa Aku Percaya: “Dia turun ke Tempat Penantian.”

Apa yang terjadi?  Hari ini sangat tenang di seluruh bumi, sangat tenang dan hening, sangat tenang karena Sang Raja sedang tidur; bumi sedang ngeri dan hening, karena Allah, yang tidur dalam daging, membangkitkan mereka yang sedang tidur sejak lama sekali.  Allah telah mati dalam kedagingan dan tempat penantian bergetar.

Dia sungguh-sungguh pergi mencari orang tua awali kita seperti domba yang hilang; Dia berharap untuk mengunjungi mereka yang duduk dalam kegelapan dan dalam bayangan kematian.  Dia, yang adalah Allah dan anak Adam, pergi untuk membebaskan narapidana Adam dan teman narapidananya Hawa dari kesakitan mereka.

Tuhan mengunjungi mereka dengan memegang senjata kemenanganNya, salibNya.  Adam, manusia pertama, menepuk dadanya dengan ketakutan ketika melihatNya dan berteriak: “Tuhanku besertaMu” dan Kristus menjawabnya: “Dan bersama rohmu.”  Dia memegang tangannya dan membangkitkannya dengan berkata:

“Bangunlah, o yang sedang tertidur, dan bangkitlah dari kematian, Kristus akan memberimu terang.
Aku Allahmu, yang menjadi anakmu untuk kepentinganmu, yang untukmu dan untuk keturunanmu sekarang berkata-kata dan memerintah dengan kekuasaan kepada mereka yang berada dalam penjara: Marilah, dan kepada mereka yang dalam kegelapan:  Terimalah terang, dan kepada mereka yang sedang tidur: Bangkitlah.
Aku memerintahmu: Bangkitlah, o yang sedang tidur, Aku tidak menciptakanmu untuk dipenjara dalam dunia orang mati.  Bangkitlah dari kematian; Akulah kehidupan bagi yang mati.  Bangkitlah, o manusia, ciptaanKu, bangkitlah, kamu yang diciptakan menurut citraKu.  Bangkitlah, marilah segera pergi; karena kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu, kita adalah satu orang yang tidak terbagi.    
Untukmu, Aku Allahmu menjadi anakmu; untukmu, Aku Tuanmu menjadi sama sepertimu: seorang hamba; untukmu, Aku yang berada di surga datang ke dunia dan ke tempat penantian; untukmu manusia, Aku menjadi manusia tanpa pertolongan, hidup diantara para arwah; untukmu yang meninggalkan taman, Aku diserahkan kepada para Yahudi di taman dan disalibkan di taman.
Lihatlah pada ludah yang ada di wajahku, yang kuterima sebagai upaya mengembalikanmu pada nafas ilahi pertama pada saat penciptaan.  Lihatlah pada tamparan yang ada di pipiku, yang kuterima untuk mengembalikan kerusakanmu pada citraku.
Lihatlah luka pada punggungku, yang kuterima untuk memecah beban dosa-dosa yang ada di punggungmu.  Lihatlah tanganku yang dipaku pada pohon untuk tujuan yang baik bagimu, yang telah menggapaikan tanganmu ke pohon untuk kejahatan.
Aku tertidur di kayu salib dan sebuah pedang menusuk lambungku, untukmu, yang tertidur di surga dan menciptakan Hawa dari sisimu.  Lambungku menyembuhkan sakit di lambungmu; tidurku akan membangunkan tidurmu di taman Eden; pedangku telah mengalahkan pedang yang terarah kepadamu.
Tetapi bangkitlah dan marilah kita pergi.  Musuh telah membawamu pergi dari taman Eden; Aku akan mengembalikanmu, tidak lagi di taman Eden, tetapi di surga.  Aku menolakmu di pohon kehidupan, yang merupakan sebuah figur, tetapi sekarang Aku bersatu denganmu, Aku yang adalah kehidupan.  Aku menempatkan para kerub untuk menjagamu karena mereka adalah para hamba; tetapi sekarang Aku akan membuat para kerub memujimu karena mereka adalah Allah.

Tahta kerub telah disiapkan, para penggiring telah siap dan menunggu, panggung pengantin telah siap, makanan telah disiapkan, rumah-rumah dan ruangan-ruangan abadi telah siap, barang berharga yang baik telah dibuka, kerajaan Allah telah disiapkan sejak lama.” 

Renungan 2016: Jumat Agung

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari http://www.lentreflections.com/

Musuh Terakhir
Allah membenci kematian dan tidak ingin berhubungan dengannya.  Berikut ini adalah kata-kata nabi Yehezkiel:   “Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya, ….  (Yeh 37 :12)  Ini dikatakan setelah pemandangan yang menakjubkan tentang tulang-tulang kering yang hidup kembali.

Ada sebuah petunjuk penting dari pemandangan di atas.  Tulang-tulang kering ini ada di tempat itu karena telah terjadi pertempuran di tempat itu.  Kematian, ketakutan akan kematian, dihadapkan pada kematian menguasai manusia dan menjadi dasar dari dosa dan penindasan.   Berpikirlah sejenak: semua dosa berasal dari ketakutan akan kematian.  Setiap tirani, yang pernah ada, telah berhasil menimbulkan ketakutan akan kematian dalam diri masyarakat.

Tetapi bagaimana kalau kematian, sebagaimana yang kita ketahui dan alami, bukanlah yang Allah maksudkan.  Bagaimana jika ada sesuatu yang Allah ingin lakukan sekali saja dan untuk semua orang dalam rangka menghapuskan kematian?  Kitab Kejadian menyatakan bahwa kematian berasal dari dosa.  Ingatlah bahwa kematian bukanlah pembubaran badan, yang tampak sebagai bagian dari proses alami.  Kematian sebagaimana yang kita alami, sebagai sesuatu yang menakutkan dan mengerikan – dikarenakan kita telah berpaling dari Allah.

Pada hari Jumat Agung ini, penting untuk mengingat bahwa Yesus datang sebagai pendekar, yang musuh terakhirnya adalah kematian.  Saya tahu betapa mudah menganggap Yesus sebagai guru moral yang baik dan memberi inspirasi, tetapi ini bukan sebagaimana yang dipaparkan dalam Injil.  Dia adalah pendekar kosmis, yang telah datang untuk berperang melawan semua kekuatan yang menghalangi kita untuk hidup sepenuhnya.

Sepanjang Injil, Yesus berhubungan dengan pengaruh-pengaruh kematian dan budaya yang terobsesi pada kematian : kekerasan, kebencian, egoisme, pengusiran, agama dan komunitas palsu.

Tetapi musuh terakhir yang harus dihadapinya adalah kematian itu sendiri.  Dan dia menghadapinya di atas kayu salib.  

Renungan 2016: Kamis Putih

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari http://www.lentreflections.com/

Pengajaran Yesus yang Terakhir

Yesus memberi pengajaran yang aneh kepada pada muridNya pada malam sebelum kematianNya.  Ini adalah wasiatNya yang terakhir.  Dalam pembicaraan yang tidak teratur ini, Yesus memberitahukan kepada mereka untuk terakhir kalinya tentang visiNya, yaitu tentang dunia dimana ketakutan akan maut telah dikalahkan.    

Sejak awal pelayananNya, Yesus mengajar tentang kasih ilahi, yang mengasihi kita tanpa syarat, bahkan melalui teror dan kegelapan maut, yang mencari kita bahkan ketika kita mengembara jauh. Sama seperti ketika Dia menuju rasa malu dan menyingkir dari dosa sebagai upaya untuk membawa terang kepada para pendosa, sekarang Dia akan menuju pada kegelapan maut sebagai upaya untuk menunjukkan jalan untuk melaluinya.

Yesus akan meninggalkan dunia ini dan Dia berdoa agar para muridNya mengetahui bahwa mereka bukan dari dunia ini.  Seperti apa dunia ini?  Lihatlah sekeliling Anda.  Ketakutan akan maut itu seperti awan, seperti bayangan mengerikan yang jatuh di atas hidup dan pengalaman manusia.  Semua dugaan kita akan rasa takut merupakan refleksi dan bagian dari rasa takut awali. Ini membuat kita kaku, membelokkan kita dari diri sendiri dan membuat kita defensif, pembenci, kasar dan pendendam.

Struktur penindasan di dunia ini berdasarkan pada ketakutan akan maut.  Tirani dapat mendominasi dan melakukan ketidakadilan karena  dapat mengancam rakyat dengan kematian.  Ketika yang kuat menguasai yang lemah, kita melihat cara-cara kematian.

Yesus datang untuk menyatakan apa yang disebutNya Kerajaan Allah, cara kehadiran Allah, perintah Allah.  Ini merupakan perintah, yang berdasarkan kasih Allah yang tidak terbatas dan yang menantang maut.  Dunia yang dipengaruhi oleh kasih yang seperti ini akan seperti apa?  Dunia yang akan berubah secara radikal, revolusioner dan digantikan: “ Surga dan bumi yang baru.”

Apa yang akan terjadi bila kita tidak lagi takut?  Kita akan hidup seperti yang dilakukan oleh para Santo dan Santa – tidak bebas dari penderitaan tetapi tidak terpengaruh olehnya.  Kita akan tahu bahwa kita dikasihi oleh kekuasaan yang melebihi maut dan ini akan memenuhi kita dengan kegembiraan yang tidak terbatas.

Renungan 2016: Hari Minggu Palma

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari http://www.lentreflections.com/

Seorang Raja dan Seekor Keledai

Seekor keledai di jaman Yesus lebih berarti bila dibanding jaman sekarang: binatang kecil yang rendah hati, sederhana dan tidak berlagak, digunakan oleh orang biasa untuk mengerjakan pekerjaannya.  Orang yang kaya dan berkuasa mungkin mempunyai kuda atau sapi, sedangkan para pemimpin politik mungkin menunggang kuda kenegaraan, tetapi tidak seorang pun dari mereka akan menunggang keledai.

Sepanjang karir publiknya, Yesus menolak ketika orang-orang memanggilnya Mesias.  Dia dengan tegas meminta mereka untuk diam.  Ketika mereka datang untuk menjadikannya Raja, dia menyingkir.

Tetapi dia bersedia untuk dinyatakan sebagai Raja ketika menuju Yerusalem dengan menunggang keledai. Pesan Injil dengan jelas menyatakan bahwa ini tidak sekedar seekor keledai, ini adalah seekor anak keledai, yang belum pernah ditunggangi orang. Ini adalah keledai muda yang tidak berpengalaman dan tidak mengesankan. Ini adalah binatang yang dikendarai Yesus menuju ke kota dengan kemenangan.  Dengan kata lain, dia bukan Raja biasa, dia bukanlah Mesias yang mereka harapkan.

Marilah kita sekarang melihat lebih dekat pada binatang tersebut.  Yesus mengatakan kepada dua muridNya untuk pergi ke kampung untuk menemukan binatang tunggangan. “Jika ada orang yang bertanya kepadamu, jawablah begini, ‘Tuhan memerlukannya” (Mat 21:3). Keledai rendah hati, yang dipaksa untuk melayani, adalah model pemuridan.  Tujuan hidup kita bukanlah untuk menarik perhatian pada diri kita sendiri, untuk memiliki karir yang sangat cemerlang atau untuk memeperbesar ego kita.  Tetapi tujuan kita adalah melayani kebutuhan Tuhan – untuk bekerjasama sesuai dengan kebutuhan karyaNya.

Apakah tugas keledai?  Dia adalah “Christopher,” pembawa Kristus. Dia membawa Tuhan menuju Yerusalem, membuka jalan untuk sengsara dan penebusan dunia.  Adakah orang yang akan secara khusus memperhatikannya?  Mungkin tidak ada, kecuali mungkin menertawakan binatang yang lucu ini. 


Tugas setiap murid sama, yaitu menjadi seorang “Christopher,” pembawa Kristus kepada dunia.  Mungkinkah kita tidak diperhatikan?  Ya.  Mungkinkah kita ditertawakan? Pasti.  Tetapi Tuhan memerlukan kita, maka kita melakukan tugas yang penting ini.

Sharing: The Sixtieth Session of UN Commission on the Status of Women

       As part of our reflection phase, I attended the first three days of the Sixtieth session of United Nations Commission on the Status of Women.  Maryknoll Office for Global Concern is one of the stakeholders at the UN (http://maryknollogc.org/) .  There are main events and side events during this ten days session, which are held in different conference room inside and outside UN Headquarters by different stakeholders. 
According to one of the registration staffs, there are 5,000 participants registered for this session.  I got my UN ground pass ID prior to the opening session to avoid long queue and it can be used for the whole session.      
1)    The Connections between undocumented immigration and trafficking of women: global and regional trends and challenges
2)    Preventing Violence Against Women and Girls in the Digital and Technological Age: Technology as a Tool of Empowerment and Safety for Women and Girls at Risk of Gender-based Violence
3)    Launch of UN Women Policy Brief on Emerging Issues in Gender and Water, Sanitation, and Hygiene.
4)   The Gender Pay Gap: What is it, why does it still exist and how do we get rid of it?
5)    Addressing Violence Against Women and Girls to Achieve Sustainable Development
6)    The elimination and prevention of all forms of violence against women and girls: why it matters for sustainable development
7)    Outside Our Silos: The Power of Inclusive Engagement to Prevent Violent Extremism.
8)    How can social and technological innovations contribute to achieving gender equality
9)    High-level event on Gender Equality and Global Call to Action on Equal Pay
10) The Role of Women in Small Medium-Size Enterprises (SMEs): How We Can Contribute to Advancing Economies for Human-centered Sustainable Development
11)   An evening event of words, performance and music to call for action to eliminate Female Genital Mutilation, Child Marriage and Son Preference by 2030

I had a chance to attend the English daily Mass at Our Lady of Angels Church (http://www.ourladyofangelsparish.org/),  Church of St. Francis Assisi (http://www.stfrancisnyc.org/), and Indonesian Sunday Mass at Resurrection and Ascension Church (http://www.rachurch.net/) besides visiting Our Lady of Angelus Church (http://www.ola63.org/) and gathering with the Chinese priests who are studying under Maryknoll China Formators Program at Church of Our Saviour (http://churchoursaviour.org/).

            Here is the link of the pictures: share.shutterfly.com/action/welcome?sid=0EbuWrFm4ZM2bn and an article about it: http://maryknollogc.org/article/un-commission-status-women
    It’s a privilege to attend the session of UN CSW 60.  I am grateful for this opportunity to attend it and to visit the Indonesian Community and the Chinese priests; for warm welcome, hospitality, all the treats and gifts.  May God continue to bless all of you!

Ossining-New York, Mar 17, 2016
Happy St. Patrick’s Day


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible

Renungan 2016: Hari Minggu Pra Paskah V

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari http://www.lentreflections.com/

Kambing Hitam


Baru-baru ini saya berduka dengan meninggalnya filsuf Perancis RenĂ© Girard, karena saya sangat terpengaruh dengan inspirasinya pada grup psikhologi dan mekanisme kambing hitam.  Dia mengatakan bahwa sebuah komunitas terbentuk ketika berbagai orang, yang tidak suka satu dengan yang lain, menyatu karena rasa benci satu dengan yang lain.   
Kita dapat melihat apa yang dikatakan Girard pada semua level, dari yang paling personal sampai yang paling kolektif, dari keluarga-keluarga sampai ke bangsa-negara bagian.  Betapa sering ada “kambing hitam” dalam sebuah keluarga?  Dia memainkan peranan yang sangat penting dalam stabilitas dan identitas keluarga.

Apa satu-satunya yang membuat dua peneliti mempunyai pendapat yang sama?  Begitu jeleknya peneliti ke-tiga!   Demikian juga, apa satu-satunya yang membuat dua orang musisi mempunyai pendapat yang sama?  Betapa jeleknya komposisi musisi yang lain.

Dinamika ini ada dalam cerita yang paling indah dalam Kitab Perjanjian Baru: Perempuan yang Berzinah (yoh 8: 1-11), yang merupakan bacaan hari ini.  Kita baca bahwa mereka menangkapnya ketika sedang berbuat zinah.

Hal pertama yang mengejutkan adalah, dimana mereka berada sehingga bias menangkapnya ketika sedang berbuat zinah?  Tindakan mereka mengintip mereka yang berbuat zinah sangatlah mengejutkan. 

Kemudian mereka bersama-sama melaporkan kasus ini kepada Yesus dengan rasa antusias yang besar.

Apa yang dilakukan Yesus di depan massa yang sedang mencari pelepasan dari ketegangan?  Pertama, dia membungkukkan badan dan menulis di tanah.  Hening sejenak sebagai bentuk penolakan untuk bekerjasama adalah gerakan pembuka yang sangat baik.  Tetapi tulisan yang misterius mungkin mengindikasikan sesuatu yang lain:  menuliskan dosa setiap orang dalam kelompok, sebagaimana diduga oleh beberapa para Bapa Gereja.


Kemudian Yesus berkata, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Dia memaksa mereka untuk membalikkan pandangan penuh tuduhan mereka kepada diri mereka sendiri.  Mereka seharusnya dengan jujur menyebut dan menghadapi gangguan fungsi dalam diri mereka sendiri dan bukan mengarahkan kekerasan mereka kepada kambing hitam.  Kisah ini, sebagaimana semua kisah dalam Injil, member tanda akan kisah besar yang kita hadapi.  Yesus akan dihadapkan pada kematian oleh massa berdasarkan kekerasan kambing hitam.  Tetapi dia menyerap dan menjinakkan kekerasan dengan mengorbankan dirinya.

Renungan 2016: Minggu Pra Paskah IV

Renungan di bawah ini merupakan terjemahan dari http://www.lentreflections.com/

Segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu

Pada dasarnya perumpamaan tentang Anak yang Hilang (Luk 15:1-32), sesuai bacaan Misa hari ini, mengatakan segala sesuatu yang perlu kita ketahui tentang hubungan kita dengan Allah.  

Kita mendengar: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.  Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku.”  Kita adalah anak-anak Allah; kita telah diberi hidup, keberadaan dan segala sesuatu; setiap saat kita ada melalui Dia.

Tetapi kemudian muncul sikap yang salah: “berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku.”  Hidup dengan baik dalam Allah memerlukan sikap menerima dan murah hati, menerima berkat dari Allah dan selalu siap untuk membagikannya.

Tetapi Allah menghormati kebebasan kita, maka “ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.” Hal ini merupakan saat yang tragis.  Apa arti aliran rahmat yang dibagi, terpisah dan terbagi menjadi milikmu dan milikku.

Kemana si anak bungsu pergi?  Dia pergi ke negeri yang jauh.”  Frasa chora makra dalam bahasa Yunani berarti “kekosongan yang terbuka lebar.” Dia menghabiskan uang warisannya dengan sia-sia.  Kita kehilangan hidup ilahi jika kita melekat padanya sebagai milik pribadi.  Dia terpaksa bekerja sebagai penjaga babi.  Dalam chora makra hanya ada hubungan berdasarkan perhitungan ekonomi, setiap orang berusaha bersandar pada apa yang dimilikinya.  “Tidak ada orang yang tergerak untuk memberinya sesuatu.” Hal ini terjadi di negeri yang jauh: di tempat dimana tidak ada pemberian.

Ketika menyadari keadaannya, dia memutuskan untuk kembali kepada ayahnya dan mengatakan: jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.”  Dia tahu bahwa para buruh ayahnya pun berada dalam hubungan yang menghidupkan.

Ketika ia masih jauh, ayahnya, yang pasti telah mencarinya, telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkannya lalu merangkul dan menciuminya.  Kisah dalam Kitab Suci bukanlah kisah tentang pencarian kita akan Allah, melainkan tentang kasih Allah dan pencarian-Nya akan kita, yang tak  kunjung henti. Kemudian ayahnya berkata, kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.” Ini adalah cincin perkawinan, yang melambangkan penyatuan kembali hubungan kita dengan Allah.

Si anak sulung sebenarnya berada pada taraf rohani yang sama dengan adiknya, meskipun secara sekilas sangat berbeda dengan adiknya,  mereka berada pada ruang rohani yang sama, karena dia juga melihat hubungan dengan ayahnya hanya dalam hubungan ekonomi. Sama seperti kebanyakan orang religius yang tulus dan banyak dihormati, dia merasa tersisihkan oleh perayaan untuk seseorang yang pasti tidak berhak mendapatkannya.  Dengarkanlah bahasanya: “ Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.”

Si anak sulung adalah seorang buruh dan seseorang yang sangat menaati – tetapi bukan seseorang mewarisi jiwa ayahnya.  Dia merasa bahwa dia harus memperoleh atau berhak atas cinta ayahnya.  Dia membenci adiknya dan membenci kemurahan ayahnya.  “Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuknya.”  Ketika kita berada di luar cinta Allah, kita jatuh pada kebencian pada sesama.

Sang ayah dengan sabar menerangkan: “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu.” Ini adalah kunci dari perumpamaan ini dan sesuai untuk kedua anak laki-laki ini meskipun mereka tidak menyadarinya.


Semua telah diberikan Allah kepada kita.  Seluruh keberadaan-Nya adalah “for-giving,” yang artinya mengampuni dan berasal dari kata “for” artinya untuk dan “giving” artinya memberi.

Sharing: Annual Retreat 2016

As part of our Reflection Phase, I attended a directed retreat on Feb 8 – 15, 2016 at Linwood Spirituality Center, Rhinebeck – New York http://www.linwoodspiritualctr.org/.
I met my spiritual director, Mrs. Ruth Harrison, PhD, around an hour a day and she gave several readings to pray: Is 43: 1 – 7, Luk 9: 23 – 27, Luk 18: 35-43, John 1: 35 – 39, Luk 1: 38, “Let Your God Love You” and “I am There” by James Dillet Freeman besides “How do We Pray with our Imagination” and “Bringing Feeling to Prayer.”
I had the opportunity to read “Stay with Us: Praying as Disciples” by John A. Mullin, SJ, “In the Footsteps of Mystics” by Henry C. Simmons and part of “Mysticism” by Evelyn Underhill besides walking around the beautiful compound by the Hudson river.  It reminded me of the quotation of Karl Rahner, “The Christian of the future will be a mystic or he will not exist at all.
Fr. Ed Salmon, SJ was the Eucharistic celebrant and homilist besides Sr. Maureen Steely, SU, Kathleen Donelly, SU, and Br. Don Bisson, FMS.   
It’s quiet, peaceful and moving days as I reflect on God’s presence in my life and mission as a Maryknoll Sister.  It also reminds me on my prophecy responsibility.  I am grateful for this opportunity of silence to reflect on my commitment in Maryknoll Sisters after being in China mission for six years.   
 
Ossining-New York, Mar 4, 2016


Sr. Anastasia B. Lindawati, M.M.

Let’s do simple things with simple love to make God’s love visible